PATER DR. KIRCBERGER,SVD
PATER DR. KIRCBERGER,SVD
RIWAYAT HIDUP
Ditulis sendiri oleh P. Georg Kirchberger
Saya lahir pada tanggal 27 Mei 1947 sebagai anak pertama dari pasangan Ludwig Kirchberger dan Elisabeth Kirchberger (lahir sebagai Weber). Saya anak pertama dari enam bersaudara. Saudara kandung saya adalah Helmut (1948), Emma (1954), Max (1955), Rudolf (1959) dan Ursula (1961). Saya memiliki 12 keponakan laki-laki dan perempuan, anak-anak mereka juga berjumlah 12 orang saat ini, tetapi tentu saja jumlah tersebut masih akan terus bertambah. Ayah saya meninggal pada usia 68 tahun pada tanggal 25 Desember 1991, ibu saya pada usia 90 tahun pada tanggal 19 April 2015. Masa kecil saya berlangsung di sebuah desa kecil, Kastl dekat Kemnath di bagian utara Oberpfalz, tidak jauh dari Tirschenreuth. Ayah saya adalah seorang masinis dan bekerja di sebuah pabrik yang berjarak sekitar 3 kilometer dari desa kami. Kami juga memiliki sebuah perkebunan kecil, yang harus dijaga oleh ibu dan kami anak-anaknya. Ayah saya selalu dapat mengambil cuti sehari ketika ada pekerjaan penting yang harus dilakukan di ladang. Salah satu saudara perempuan ibu saya juga banyak membantu kami. Itu adalah tahun-tahun setelah perang dan kehidupan kami sebagai anak-anak sangat diwarnai oleh kerja keras tanpa lelah.
Saya bergabung dengan SVD secara kebetulan. Pada tahun 1957, saya bertemu dengan seorang teman sekolah saya, tapi dia satu kelas di atas saya, di dekat tugu peringatan perang, di pusat desa kami. Kami mengobrol dan dia mengatakan kepada saya bahwa pada tahun ajaran berikutnya dia akan masuk ke sekolah menengah atas (Gymnasium) di Tirschenreuth. Secara spontan saya berkata, tahun depan saya akan ikut bersamanya ke sana. Saya tidak tahu lagi apa yang mendorong saya untuk mengatakan dan melakukan itu. Sebenarnya Tirschenreuth pada saat itu sulit dijangkau dari desa kami. Itu sebabnya orang tua saya mengatakan bahwa jika saya ingin bersekolah di Gymnasium, maka saya harus pergi ke Weiden, karena akses kesana sangat mudah, hanya setengah jam dengan kereta api. Tetapi saya tetap pada pendirian saya. Kemudian ketika saya berada di biara St. Petrus, Tirschenreuth, saya baru sadar kalau saya berada di sebuah seminari kecil milik Serikat Misionaris dari Steyl. Tentu saja, kami dibuat sedikit akrab dengan biara SVD. Para misionaris yang sedang cuti, sering mampir ke seminari ini dan bercerita tentang pekerjaan mereka. Saya juga ingat kelompok tari dari Pater Proksch, yang tinggal di seminari selama beberapa hari setelah (atau sebelum?) mereka menari di Kongres Ekaristi di München pada tahun 1960. Saya juga ingat Uskup Paul Sani dari Denpasar, Bali, dengan sangat baik; saya sangat terkejut bahwa ada uskup sekecil itu. Jadi perlahan-lahan saya sampai pada kesimpulan bahwa „profesi“ misionaris mungkin cocok untuk saya, dan setelah lulus ujian akhir sekolah (Abitur) di Ingolstadt, saya mendaftar ke novisiat SVD bersama dengan teman sekelas saya, Martin Weichs.
Di St. Gabriel, Wien, kami beruntung, karena kami berada dalam ruang lingkup rumah formasi yang baik. Pater Alfred Much adalah pembimbing novis dan Bernhard Dessibourg adalah sosiusnya. Pater Dessi, demikian kami memanggilnya, masih muda dan memiliki banyak ide dan rencana-rencana yang menarik bagi kami. Saat itu adalah masa perubahan setelah Konsili (Vatikan II) dan kami para novis muda, bersama para saudara berkaul kekal, punya keinginan besar untuk memformat ulang dan mengevaluasi banyak hal sesuai dengan ide dan pandangan kami. Pater Dessi dan Pater Piskaty, Prefek Skolastik, sangat terbuka terhadap gagasan kami dan melakukan banyak hal bersama kami. Pater Much, secara emosional dalam banyak hal tidak sejalan dengan kami, tetapi dia adalah seorang yang sangat cerdas dan berwibawa. Dia menyadari bahwa harus ada perubahan dan penyesuaian dalam kualitas akademis. Dia memiliki otoritas yang besar di antara para Pastor dan Bruder yang lebih tua darinya dan dia membela apa yang kami lakukan dengan para pembina dan dosen muda. Itu adalah konstelasi yang sangat menguntungkan bagi kami.
Di St. Gabriel kami tidak pernah menghabiskan banyak energi untuk pergulatan dan perselisihan internal yang tidak perlu. Di satu sisi, pergulatan dunia akademis membuat kami sungguh bergairah. Kami memiliki profesor tamu yang baik, yang benar-benar memperkaya kami. Saya ingat terutama Heinrich (?) Rennings von Trier, Profesor Goldbrunner, seorang psikoterapis dari Swiss yang mempraktikkan psikoterapi percakapan Rogers, juga Michael Zulehner, dan yang paling penting adalah Georg Braulich. Kami sangat diuntungkan oleh fakta bahwa St. Gabriel sendiri tidak memiliki cukup profesor dan karena itu harus mengundang profesor tamu. Tetapi kami juga memiliki orang-orang yang baik di antara para profesor kami sendiri. Saya selalu mengagumi Josef Salmen. Dia memiliki banyak pengetahuan. Dia selalu benar-benar berusaha untuk memberikan sebagian dari pengetahuan itu kepada kami dan, di atas segalanya, dia memiliki karunia untuk benar-benar memberi hati bagi para mahasiswa ketika dia membimbing diploma atau tesis mereka. Beliau tidak mengkritik kekurangan dan tidak menghilangkan keberanian mahasiswa, tetapi beliau mampu menemukan butiran emas di antara sampah-sampah buliran pikiran mereka dan selanjutnya memberi jalan keluar terbaik untuk mengembangkan pendekatan yang mereka pilih. Klemens Thoma adalah seorang guru yang berbakat dan ia mampu menarik minat kami pada Perjanjian Lama. Seminar-seminarnya selalu menjadi topik pembicaraan di luar ruang kuliah, sehingga semua orang mengetahui apa yang sedang dibahas dalam ruangan kuliahnya. Narasumber penting lainnya bagi kami adalah Ludwig Hauser, Jakob Mitterhöfer, Gerd Birk, Johannes Riedel, dan masih banyak lagi. Saya juga tidak ingin melewatkan malam-malam di Brettelbar, ketika kami pergi minum bir hingga larut malam. Para profesor yang lebih muda juga sering hadir dan ada diskusi-diskusi menarik, di mana kami mungkin belajar lebih banyak daripada yang kami dapat di bangku kuliah.
Dan karena itu kami selalu tertarik dengan karya misi dan masa depan kami sendiri. Sebagian besar dari kami segera mengetahui ladang misi mana yang ingin kami masuki. Kuliah-kuliah praktis tentang misiologi oleh Pater Piskaty dan informasi serta berbagai kegiatan badan-badan misi Katolik Austria, yang diberikan oleh Pater Mitterhöfer, membuat kami memiliki kontak yang hidup dengan dunia misi dan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tentang pergolakan dalam pemahaman misi. Atas saran para profesor, saya sendiri juga mulai menaruh minat pada pendidikan di seminari milik SVD. Setelah praktik dan berada di tahun pertama teologi, atas saran Pater Piskaty, saya menulis surat ke berbagai seminari SVD, atau tempat di mana SVD bekerja, dan menanyakan mata pelajaran apa saja yang mereka perlukan untuk para misionaris muda. Pertama saya mendapat balasan dari Tagaytay dan Vigan. Vigan mencari seseorang untuk hukum kanonik dan bidang-bidang lain yang tidak saya minati. Tagaytay menulis bahwa mereka mencari seseorang untuk filsafat barat. Hal ini menarik minat saya dan karena itu saya mulai menghadiri kuliah tambahan di bidang filsafat. Secara khusus, saya ingat sebuah kuliah dari Josef Salmen tentang hubungan antara teori dan praktik dalam sejarah pemikiran Barat, yang memberikan saya banyak wawasan yang masih berharga bagi saya sampai sekarang. Sekitar setahun kemudian saya mendapat balasan dari Ledalero dan mereka menulis bahwa mereka secara praktis mencari orang untuk semua bidang, jadi saya menyadari bahwa inilah tantangan besar yang harus dihadapi. Segera setelah itu, Pater Karl Müller, yang saat itu menjabat sebagai Wakil General, datang ke St. Gabriel. Saya berbicara dengannya dan dia mengatakan kepada saya bahwa mereka sedang mencari seseorang untuk Ledalero dan bahwa saya pasti akan mendapatkan penunjukan di sana jika saya mau. Jadi „petitio missionis“ saya cukup singkat: Ledalero, eksegese Perjanjian Baru atau Dogmatik. Saya pikir saya akan mendapatkan eksegese, karena untuk Dogmatik Pater Vlooswijk masih cukup aktif, sementara di Ledalero tidak ada profesor untuk eksegese. Namun, Generalat memutuskan Pater Heekeren untuk juga datang ke Ledalero sebagai seorang ekseget, hal yang tidak saya ketahui sebelumnya, sehingga saya akhirnya memilih mata kuliah Dogmatik.
Saya sebenarnya tidak mempunyai moto tahbisan. Tetapi karena di paroki asal saya, sudah menjadi kebiasaan umat, bahwa "gambar Primiz" diletakkan di buku doa mereka, sebagai pengingat agar terus mendoakan para imamnya. Itulah sebabnya saya menulis pada kartu tahbisan saya: "Berdoalah untuk kami, supaya firman Tuhan tersebar dan dimuliakan" (bdk. 2 Tes 3,1). Apakah dan bagaimana moto ini menemani saya? Saya sadar bahwa kami yang bekerja di Seminari Tinggi Ledalero sangat membutuhkan Roh Tuhan dan kekuatan dari Tuhan agar kami dapat melaksanakan tugas yang menjadi tanggung jawab kami dengan baik. Bagaimanapun juga, kami melatih hampir seperlima dari para calon SVD sejagat. Jadi apa yang kami lakukan atau tidak lakukan pasti berdampak untuk seluruh serikat, di segala penjuru dunia.
Kegiatan misionaris saya adalah mendidik para SVD muda. Saya tiba di Ledalero lima bulan setelah ditahbiskan dan menghabiskan sembilan bulan pertama untuk belajar bahasa secara intensif. Saya mulai mengajar di Ledalero bulan Agustus 1976. Pada semester-semester pertama saya masih lebih banyak belajar Bahasa daripada mengajar. Kegiatan mengajar ini menyertai saya sampai hari ini. Sekarang saya telah menjadi profesor emeritus, tetapi saya masih terus mengajar. Selama beberapa tahun, saya dipilih sebagai anggota Dewan Rumah Ledalero dan Dewan Provinsi Ende, saya membantu menentukan nasib Serikat di bukit Ledalero ini. Tetapi fokus utama pekerjaan saya adalah mengajar teologi, dan lebih banyak waktu yang saya pakai untuk mengawasi skripsi dan tesis master.
Pemahaman saya tentang misi. Saya ingin menekankan bahwa misi adalah tugas gereja. Semua orang Kristen harus menjadi pewarta Injil di tempat masing-masing, terutama melalui kehidupan dan tanggung jawab sosial mereka. Saya melihat tugas kita sebagai misionaris "profesional" terutama berhadapan dengan kenyataan bahwa dalam situasi gereja dunia yang majemuk saat ini, kita harus bisa menciptakan hubungan yang hidup dan konkret di antara gereja-gereja lokal dan dengan demikian memperkaya gereja lokal, tempat di mana kita berkarya, tapi juga gereja lokal di negara asal kita, sehingga pada gilirannya mereka dapat memenuhi tugas perutusan mereka dengan lebih baik.
Pesan saya untuk generasi muda. Ya, saya termasuk dalam generasi yang sekarang harus turun dari panggung kehidupan. Berikan saya satu kesempatan ini untuk memberikan pesan kepada generasi muda. Saya pikir penting bagi mereka untuk mengembangkan rasa percaya diri yang sehat sehingga mereka dapat bertarung melawan kami yang sudah tua, dalam pertempuran yang mungkin pernah kami perjuangkan di masa muda, di mana mereka benar-benar mewakili dan memperjuangkan posisi mereka, yang lebih responsif terhadap tuntutan zaman. Hal ini memang sama sekali tidak sesuai dengan tipikal orang Indonesia, di mana mereka lebih diedukasi dan berorientasi untuk lebih baik menyesuaikan diri. Saya juga berpikir bahwa disiplin diri dan rasa tanggung jawab itu penting. Jika hal itu ada, maka kita akan berusaha untuk mengenal Firman Tuhan dengan lebih baik dan lebih baik lagi, sehingga kita dapat berkhotbah, mewartakan sabda Tuhan dengan penuh tanggung jawab. Dan buah dari rasa tanggung jawab ini adalah dengan sungguh-sungguh dan serius untuk terlibat dalam segala situasi di mana kita hidup dan bekerja.
Diterjemahkan dari teks asli yg ditulis dalam bahasa Jerman.
Ledalero, 7.6.2023
_____________________________________
ORANG INI (NARASI PUITIK PATER GEORG KIRCHBERGER, SVD)
http://www.iftkledalero.ac.id/public/detail/orang-ini-narasi-puitik-pater-georg-kirchberger-svd-
Oleh Gerard N. BIBANG
Saleh, orang ini. Tidak pernah terlihat sedikitpun marah, ngomel, murung dan cemberut. Selalu stabil. Senyum dan bersuara halus. Tidak pernah buru-buru.
Orang ini, fokusnya hanya menjadi untuk orang lain. Tidak pernah cerita orang lain dan dirinya sendiri kecuali kalau ditanya. Itu pun jawabannya selalu yang itu-itu. Hanya ada dua. Bahwa memang telah menjadi cita-citanya sejak di Sankt Gabriel untuk nanti bekerja sebagai pengajar begitu setelah ditahbiskan imam. Bahwa dia gondrong plus brewok terurai awal mulanya adalah protes kepada pimpinan rumahnya yang melarang dan mencela rambut lebat panjang dan brewok. Lalu disambung dengan cekikikan kecil tapi tidak lama.
Protes yang sama, orang ini lakukan ketika di Ledalero dari awal hingga akhir thn 80-an. Saat itu rektor rumah, Pater Embuiru SVD, sering mengeritik secara terbuka frater-frater yang rambut gondrong kribo, janggutan dan celana komprang berlebihan sampai gesek-gesekan dengan lantai atau tanah. Orang ini dengan sunyi tanpa kata tampil ke mana-mana, di ruang kelas dan di gereja, dengan rambutnya yang panjang dipadu dengan brewok berwarna perak putih terurai. Ketika celaan itu pergi, gondrongnya lenyap tapi brewok tetap menempel di dagu dan pipinya meski tidak lagi lebat terurai. Brewoknya ikut menua dan menipis.
Orang ini, baik hati, sopan santun, sangat membantu dan penuh cinta. Ambisinya yang utama dan pertama-tama ialah membuat orang lain menjadi orang. Dia akan mengurusmu sampai benar-benar menjadi orang. Bukankah ini sebuah cinta yang tuntas dan tidak setengah-setengah?
Orang ini, kudus dan benar. Meminjam istilah almarhum Pater Pinon: orang ini selalu hidup dalam kesadaran. Orang ini selalu sadar dari mana dan ke mana, yang dalam istilah moderen sekarang, orang ini memiliki kesadaran positioning yang sangat tinggi. Karena benar, orang ini khusuk dlm doa dan berkata apa adanya. Orang ini adalah apa yang dikatakannya dan diperbuatnya. Satu tak terpisah.
Bagi orang ini, amukan badai di atas sana, terguncang rasa di dalam badan, semuanya bersatu dalam jiwa. Orang ini tetap berjalan merunduk sambil senyum.
Bagi orang ini, kelemahan orang lain bukan kendala untuk mencinta. Bukan alasan membuat kepalanya pusing. Memaafkan dan memberi solusi, itulah kunci yang selalu dipegangnya. Orang ini memang paling cerewet dan ngeyel membimbing skripsi atau tesis. Tapi paling setia dan selalu ada untukmu hingga tesismu dinyatakan lulus dan selesai. Barulah orang ini melepasmu pergi.
Ketika gempa dahsyat mengguncang Bukit Mentari yang kokoh dan permai itu, orang ini disadari akhirnya layak ditiru. Yaitu lagak-laku meminggir dan menepi. Ada suatu kurun waktu orang ini menepi di Wairpelit, membimbing para mahasiswa awam. Beberapa rumah didirikannya dan di sinilah orang ini memaklumkan sebuah cinta yang tak biasa. Bahwa sesungguhnya menepi adalah jalan sunyi untuk memihak kepada orang kecil, tersisih dan pinggiran. Pada akhirnya Bukit Mentari itu tahu bahwa jalan Sabda ialah jalan sunyi, jalan meminggir dan jalan menepi. Hanya di atas jalan seperti itu, seseorang bisa menyapa yang terpinggirkan sembari bersujud kepada Sang Sabda di Singgasana.
Orang ini, warga Serikat Sabda Allah yang paling tulen. Empat puluh tujuh tahun sudah orang ini meninggalkan tanah kelahirannya Jerman, mati bagi kebudayaannya sendiri demi memberi hidup bagi kebudayaan lain, ialah kebudayaan Maumere, tempat persemaian ahli waris Sang Sabda di Bukit Mentari. Orang ini benar-benar telah memperagakan misteri inkarnasi kepada semesta
*
Dalam gumuruh bising ibukota
Terkenang cintamu yang melebihi waktu dan ruang
Mengatasi tanggal kematianmu
Abadilah engkau dalam kalbu
Berlalulah terus wahai arak-arakan awan kelabu
Tak kan pernah kau dapat sirnakan orang ini
Ia memang serpihan debu
Teduhnya kenangan kami membuatnya tidak mati-mati
Jumpa dia kembali di surga di suatu waktu
Dunia ini toh hanya tempat singgah makan dan minum
Dan ketika setiap langkah menapak di alas tiba
Saudara kematian menyapa tanpa diundang
Wahai Sang Sabda, dengarlah!
Orang ini yang duduk disisi-MU adalah manusia bersahaja
ENGKAU -lah yang dicarinya selama di dunia
*
(gnb:tmn aries: jkt: selasa:6.6.23. P Georg adalah misionaris SVD, dosen teologi dogmatik di Ledalero selama 47 thn meninggal dalam usia 76 THN di RSUD Hillers Maumere, Senin malam 5.6.23)
____________________
Comments
Post a Comment