PARA FILSOF

 PARA FILSOF

1. ARISTOTELES


https://www.facebook.com/share/r/15edpGv1RL/

Kecerdasan Tanpa ambisi adalah  seperti burung tanpa sayap. 




William Ochmam  OFM    (Imam Katolik)


https://plato.stanford.edu/entries/ockham/


****

ARISTOTELES

https://www.facebook.com/share/r/1B6Caigoz5/

Berikut Kata Aristoteles yang bisa mengubah hidupmu: 

1. Kebjjaksanaan sejati  adalah  mengetahui  seberapa sedikitnya yang kita ketahui . Aristoteles menekannkan jika merasa tahu  segalanya itu tanda kebodohan.  Kebijaksanaan dimulai ketika kamu rendah hati untuk belajar lebih banyak. 

2. Berani itu  adalah pertengahan antara rasa takut dan sembrono.   Aristoteles mengungkapkan bahwa  berani  bukan berarti tanpa rasa takut, tapi tahu kapan harus melangkap  meski ada resiko.  Janga takut berlebihan tetapu juga jangan  bertindak  bodoh. 


JPS, 19 Desember 2024. 


*******





https://www.youtube.com/watch?v=LaOMziSdWY8

https://www.youtube.com/watch?v=oG852gUrDG8

https://www.youtube.com/watch?v=oG852gUrDG8


Parsimoni   merupakan upaya untuk menerangkan sesuatu  dengan mengambil argumen yang paling sederhana. Dalam menerangkan sesuatu yang rumit, yang paling sederhanalah yang  gampang diterima.  Dalam "Wiliam  Ochham, research . William Ocham  itu seorang imam Katolik . Begitu ada kerumitan perdebatan, cari argumen yang paling sederhana.  Dalam konteks politik di indoneia  2024), Cawe - cawe merupakan bukti yang sederhana.  Yang  paling sederhana adalah menduga dengan kekuatan pikiran  bahwa pasti ada cawe- cawe. 


********

1.     Melakukan kebaikan. Tentang hal ini  Aristoteles berkata, "Kebaikan adalah  sesuatu yang menjadi tujuan  segala sesuatunya " ( Jalan Pintas,  Metode Lima langkah menuju Rahasia,  Bambang Pribadi, Penerbit Kompas,  2007, hlm, xii), JPS, 30 September 2024. 



****

Aristoteles dan muridnya di akademi.
Suatu pagi, Aristoteles sedang berjalan di taman akademi, dikelilingi murid-muridnya. Salah satu murid, Theon, mengangkat tangannya dgn penuh rasa ingin tahu.
Theon: "Guru, mengapa Anda mengatakan bahwa pikiran yg kuat selalu berbicara tentang ide, bukan tentang orang lain? Apakah membicarakan orang lain itu salah?"
Aristoteles: (tersenyum) "Theon, membicarakan org lain tidak selalu salah, tetapi terlalu banyak fokus pada kehidupan orang lain sering kali menjauhkan kita dari pemahaman yang lebih dalam tentang dunia. Apakah menurutmu seseorang akan menemukan kebenaran dengan hanya mengamati tindakan orang lain tanpa memikirkan alasan atau ide di baliknya?"
Theon: (merenung) "Mungkin tidak, Guru. Tetapi kadang-kadang, membicarakan orang lain terasa lebih mudah daripada memikirkan hal-hal besar."
Aristoteles: "Itulah perbedaannya, Theon. Pikiran yg kuat tidak mencari jalan yang mudah. Mereka tertarik pada ide-ide besar—tentang keadilan, kebaikan, ilmu pengetahuan, atau bagaimana masyarakat bisa menjadi lebih baik. Sementara itu, mereka yang lemah pikirannya cenderung terjebak dalam gosip atau kritik kecil tentang orang lain."
(Murid lain, Callis, ikut menyela dengan rasa ingin tahu.)
Callis: "Tetapi, Guru, apakah membahas ide-ide besar itu tidak sulit? Bagaimana kita melatih diri untuk melakukannya?"
Aristoteles: "Memang sulit, anakku. Tetapi inilah cara untuk melatih pikiranmu: Alih-alih bertanya, 'Apa yang dilakukan seseorang?' tanyakanlah, 'Apa ide di balik tindakannya?' Alih-alih bertanya, 'Mengapa dia salah?' tanyakanlah, 'Apa solusi untuk masalah itu?' Dengan cara ini, pikiranmu tidak hanya menjadi lebih tajam, tetapi juga lebih bermakna."
Theon: "Jadi, Guru, fokus pada ide itu seperti membangun rumah di atas fondasi yang kokoh?"
Aristoteles: (mengangguk) "Tepat sekali, Theon. Orang yang hanya membicarakan individu seperti membangun rumah di atas pasir—tidak ada yang bertahan lama. Tetapi mereka yang fokus pada ide-ide besar seperti membangun di atas batu yang kuat—hasilnya akan bertahan dan memberi manfaat bagi banyak orang."
Callis: " lalu bagaimana dengan mereka yang hanya ingin membicarakan hal-hal kecil? Apakah mereka dapat berubah?"
Aristoteles: "Tentu saja. Pikiran bisa berkembang. Mulailah dengan bertanya, 'Apa yang benar-benar penting?' Jika kamu melatih dirimu untuk memikirkan ide-ide besar, perlahan-lahan gosip dan hal-hal kecil akan tampak tidak berarti. Dan saat itu, kamu akan menemukan bahwa pemikiranmu membawa cahaya, bukan hanya suara."
(Aristotelespun menatap murid-muridnya dengan senyum bijaksana).
Aristoteles: "Ingatlah anakku. Dunia ini tidak berubah oleh pembicaraan tentang orang lain, tetapi oleh ide-ide besar yang menggerakkan hati dan pikiran manusia. Jadilah mereka yang membawa perubahan, bukan hanya mereka yang berbicara."
👉 Aristoteles bermaksud bahwa pikiran yg kuat dan bijaksana fokus pada ide-ide besar yang dapat membawa kemajuan, inovasi, dan perubahan positif. Dan seseorang yg berpikiran luas cenderung mengarahkan perhatian mereka pada konsep, visi, dan solusi daripada sekadar membicarakan individu atau hal-hal remeh. Aristoteles ingin menunjukkan bahwa kecerdasan sejati terletak pada kemampuan untuk memikirkan hal-hal yg memiliki dampak luas dan jangka panjang, bukan pada gosip atau pembicaraan yang tidak produktif.
Maka Terus mengasa kemampuan berpikirmu


JPS, 24 Feb. 2025.
Respons saya:
Keren e Kraeng Kon. Sy jadi ingat salah satu kotbah Rm.Dr. Gaby Unto da Silva dulu saat kita di ST Ritapiret: orang besar (cerdas) berbicara tentang ide (gagasan), orang biasa berbicara tentang realitas, orang kecil berbicara tentang orang lain.

Semua tanggapan:
Frans Jelata, Wanto Liarian dan 19 lainnya

**********


fenomena adalah realitas sendiri yang tampak. Di mana segala tirai yang memisahkan manusia dengan realitas tidak ada lagi, dengan begitu realitas itu sendiri tampak bagi manusia. Inilah yang dalam semboyan filsafat Husserl dikatakan: Zurruck zu den sachen selbst (kembali kapada benda itu sendiri. 13 Realiatas objek yang tampak di hadapan subjek ditangkap oleh kesadaran itu adalah intensional. Dengan mengatakan kesadaran bersifat intensional sebenarnya sama artinya mengatakan realitas menampakkan diri. Husserl menjelaskan intensionalitas merupakan struktur hakiki kesadaran. Intensionlitas adalah istilah yang berasal dari kata intedere14 yang artinya menuju kedalam intensionalitas ingin mengatakan bahwa objek adalah selalu melihat dengan subjek, dan tidak bisa dipahami berdiri sendiri.15 Istilah intensionalitas juga digunakan oleh psikologi, yang berpandangan bahwa tidak ada hal yang menyadari tanpa ada yang menyadari. Begitu juga tak ada yang dilihat, tanpa ada yang melihat. Tampaklah dari penjelasan yang dipaparkan di atas hal tersebut mengisyaratkan adanya suatu sintesis antara subjuek dan objek (Brower, 1983). Jadi dalam intensionalitas tidak ada dikotomi antara subjek dan objek. Setiap pandangan subjek mempengaruhi objek. Fenomenologi berangkat dari pra pengalaman empiris dan membebaskan segala bentuk teori pengetahuan, dengan tidak memberikan penilaian dan interpretasi terhadap objek yang menampakkan dalam kesadaran, dengan cara menangguhkan atau menunda penilaian interpretasi untuk menemukan hakikat. Hakikat tidak terletak di belakang atau di atas peristiwa, tetapi berada di dalamnya.16 

(https://etheses.iainkediri.ac.id/9661/3/92700219008_BABII.pdf)



Filsuf yang dikenal dengan pemikirannya mengenai kesadaran yang bersifat intensionalitas adalah Edmund Husserl. Ia adalah pelopor aliran fenomenologi, dan dalam fenomenologi, intensionalitas dianggap sebagai struktur dasar dari kesadaran. Kesadaran, menurut Husserl, selalu tertuju pada sesuatu (intensional), artinya kesadaran tidak pernah kosong, melainkan selalu berhubungan dengan objek di luar dirinya. 
Berikut adalah penjelasan lebih lanjut:
  • Intensionalitas sebagai Struktur Hakiki Kesadaran:
    Husserl berpendapat bahwa kesadaran manusia memiliki sifat intensional, yaitu selalu terarah pada sesuatu. Objek yang dituju oleh kesadaran ini bisa berupa benda fisik, ide, perasaan, atau bahkan pengalaman diri sendiri. 
  • Fenomenologi dan Intensionalitas:
    Dalam fenomenologi, yang menjadi fokus adalah pengalaman langsung dari kesadaran. Reduksi fenomenologis yang dilakukan Husserl bertujuan untuk memahami struktur kesadaran yang intensional ini, tanpa terpengaruh oleh asumsi-asumsi dan interpretasi-interpretasi tentang dunia. 
  • Perbedaan dengan Pemikiran Lain:
    Pemikiran Husserl tentang intensionalitas berbeda dengan pandangan yang menganggap kesadaran hanya sebagai refleksi dari dunia luar atau sebagai entitas yang terpisah dari dunia. Husserl menekankan bahwa kesadaran dan dunia saling terkait secara fundamental. 
  • Contoh:
    Saat seseorang melihat meja, kesadaran orang tersebut tidak hanya mencatat keberadaan meja, tetapi juga terarah pada meja itu sendiri. Kesadaran tersebut bersifat intensional karena terhubung dengan objek di luar dirinya. 

Tentang  Fenomenologi Edmud Hussrl  bisa  simak pada

https://rumahfilsafat.com/2009/08/

*********

Comments

Popular posts from this blog

ST. AGUSTINUS

PATER MARKUS SOLO KEWUTA, SVD