PERCIKAN PEMIKIRAN DARI SEMINAR - SEMINAR
PERCIKAN PEMIKIRAN DARI SEMINAAR - SEMINAR
SEMINAR DOSEN: PERAN JOSEPH RATZINGER (PAUS BENEDIKTUS XVI) BAGI GEREJA DI MASA PRA DAN POST KONSILI
Setiap pemikir (Teolog) menggunakan sudut pandang tertentu dalam menyampaikan ajarannya, misalnya Ratzinger berlandasakan Platonisme. Teologi Pembebasan menggunakan Marxisme dan Rarl Rahner menggunakan Heidegger. Plato dan Marx itu kafir (?) (ateis?), mengapa Plato dipakai sebagai rujukan penilaian iman, sedangkan Marx tidak dipakai?
*******
STUDIUM GENERALE IFTK LEDALERO,
TEMA I BERSAMA Dr. GEORG KIRCHBERGER
Pada abad ke 9 terjadi pertemuan antara Budaya Kristiani dan Budaya Baru yang memberikan kita pelajaran lain lagi. St. Sirius dan Methodius merupakan 2 orang yang kuat berakar dalam budaya Helenis . Terdorong oleh budaya Kristiani mereka masuk ke dalam suku-suku Slavia untuk menyebarkan iman Kristiani di dalam wilayah baru itu. Savia itu Rusia, Ukraina, Slovakia, Cekoslovakia, dan sebagainya. Dalam usaha misi itu, mereka sungguh masuk ke dalam budaya yang baru dan rupamya mereka berhasil memahmi dan menghayati budaya baru itu secara intensif. Mereka menerjemahkan Liturgi ke dalam Bahasa Slavia. Berbeda dengan Krl Agung yang meyatakan Liturgi Romawi dalam Bahasa Latin. Mereka juga membantu Suku-suku Slavia untuk mengaliskan Bahasa Lisan mereka ke Bahasa tulisan dengan menciptakan suatu sistem huruf bagi Bahasa itu dan sampai dewasa ini Budaya Slavia hasik menggunakan huruf reliq (?) yang diciptakan oleh St. Sirilus itu. Juga dalam kesenian, suku-suku Slavia menciptakan tradisi tersendiri yang nyata misalnya dalam lukisan Ikon yang sangat terkenal. Pelajaran yang kita bisa ambil dari gaya misi Silirus dan Methodius adalah bila orang yang membawakan iman Kristiani masuk secara sungguh ke dalam Budaya mereka yang kepadanya mereka ingin membawa iman itu, maka mereka bisa menghasilkan suatu gaya baru dalam menghayati iman itu yang sesuai dengan budaya yang ke dalamnya mereka mewartakan iman. Bisa dikatakan Inkultirasi sebagai usaha menerjemahkan iman yang dimiliki dan dihayati dalam budaya asal misionaris itu ke dalam Bahasa dan penghayatan plural yang dimiliki oleh mereka yang menjadi sasaran misi itu. Sedikit ini juga terjadi dalam wilayah kita ini. Kalau kita lihat para misionaris seperti Paul Arnt, SVD , Jilis Verheijen, SVD, yang mempelajari budaya kita ini atau Van Lith di Jawa, tetapi terjadi hanya untuk sebagian karena dihalangi oleh pembekuan (pembukuan) Liturgi dan Ajaran Kristiani yang terjadi sebelum Konsili Vatikan II. Untuk sebagian besar masih terjadi sampai sekarang juga.
Kita perlu melihat situasi yang terjadi setelah Konsili Trente karena di situ terjadi atau dibentuk apa yang menjadi alasan bahwa dulu tidak ada inkulturasi . Setelah Konsili Trente, prose Inkulturasi yang hidup, yang kita amati dengan beberapa contoh tadi dimatikan dan terjadi penyeragaman dalam segala bidang dalam Gereja Katolik. Teoligi diseragamkan dalam Teologi yang kita kenal sebagai Teologi Neo Skolastik atau Neo Thomisme. Struktur Gereja disentralisasi dan tidak (?) dilaksanakan seturut semangat absolutisme yang saat itu menjadi dominan dalam dunia Politik Eropa, sesuadah Machiaveli akhirnya ......... (?) Kita lahir dan kita sebagai Gereja dibentuk oleh gaya non expor (?) / mengeksplor / mengekspor (?) Kekeristenan dalam pakaian, dalam budaya Eropa.
Konsili Vatikan II akhirnya membawa suatu angin baru . Para teolog yang pada dasawarsa 30-an sampai 50-an berusaha membarui Teologi dalam Budaya Eropa yang dihukum oleh Roma sehingga tidak boleh mengajar lagi, mereka mencari jalan keluar melalui kegiatan akademis mereka dengan mengadakan studi historis dan mempelajari toeri para Bapa Gereja dengan bantuan Ilmu Hermeneutika yang mengajar mereka untuk mempelajari setiap teks dalam konteksnya yang asli agar dimengerti dengan baik dan sesaui dengan maksud asli. Sejumlah teolog terutama di Perancis seperi Hendri ke Lubac, (?) Yves Congar, (?) dan di Jerman Karl Rahner , Scilebex (?) di Belanda mereka mencari , mereka sebenarnya mau berdialog dengan perkembangan yang terjadi dalam budaya tetapi mereka dipangkas , tidak boleh mengajar lagi . Dalam situasi demikian mereka mulai studi sejarah , mereka pelajari teori Bapa-Bapa Gereja mereka dibuat sadar melalui Ilmu Hermeneutika bahwa kita mesti memperhatikan konteks, jangan kita berpikir kita langsung bisa mengerti , kita mesti menelusuri, sebenarnya punya maksud apa dalam teks asli itu. Mereka itu kemudian diangkat sebagai penasihat Teologi dalam Konsili Vatikan II. Mereka berhasil membarui pandangan tentang Gereja dengan mengintegrasikan kembali Tradisi milenium pertama ke dalam tradisi yang lebih baru, yang dipersempit, terutama pembekuan (?) sesudah Konsili Trente (Thn ........). Maka yang disebut kelompok onservatif dalam Konsili itu, mereka mau mau mempertahnkan tradisi baru, dari sekitar 300 tahun terakhir sebelum Konsili. Sedangkan kelompok yang dinamakan progresif mau mengintegrasikan kembali nilai-nilai yang diambil dari tradisi tua milenium pertama. Di samping itu, di samping pengaruh tradisi yang lebih tua itu, Dokumen seperti Gaudium et Spes menimba juga dari perkembangan dalam suasana sosial yang terjadi di Eropa dan Amerika seperti demokratisasi, kebebasan pers, kebebasan beragama, kedua hal yang ditolak Gereja pada awal abad ke 19. Juga dalam Antroplogi budaya, ada perkembangan penting yang mempengaruhi pandangan Gereja. Paham normtive yang mengangkat Budaya Eropa sebagai norma dari budaya lain ditinggalkan. Ditegaskan bahwa setiap budaya memiliki nilai dan harganya tersendiri yang berbeda dari budaya lain tetapi tidak bisa dinalai sebagai kurang berbobot karena perbedaan itu. Ini situasi di dalamnya kita berada. Kita berusaha untuk menghayati dan merefleksi iman kita seturut apa yang diserukan dalam Konsili Vatikan II . Sejak KV II Sri Paus dan pimpinan Gereja Regional , KWI menegaskan perlunya Inkulturasi , mendesak agar terjadi dialog intensive dengan budaya . Tetapi soalnya, kalau mereka omong, tetapi secara kongkrit, hukum dan struktur Gereja Katolik disentralisasi lagi secara ketat. Sehingga tidak bisa ada dialog dan diskusi bebas dan terbuka selalu langsung dihentikan dan ditindaki oleh pimpinan Sentral di Roma. Maka selain membuka diri terhadap budaya kita sendiri dan berusaha dengan beberapa contoh tadi belajar dan bertindak mencari jalan dalam pertemuan budaya dan iman kita . Kita perlu juga berjuang agar struktur dan terutama Hukum sentralistis dalam Gereja Katolik dicairkan dan diatasi . Sekarang ini Litirgi, untuk soal terjemahan harus disyahkan oleh Roma. Kita melihat bagaimana terjadi desentralisasi (?) akan menjadi problem yang nyata dalam membendung usaha Inkulturasi. Sekian dan trima kasih.
JPS, 10 Feb. 2023. Aku tulis naskah ini berdasarkan tuturan Pataer George Kircberger, SVD dari pkl 18.00 - 21.10 pm. Wow...... Suatu usaha yang luar biasa.
Comments
Post a Comment