PERCIKAN PEMIKIRAN DARI SEMINAR - SEMINAR

 PERCIKAN PEMIKIRAN DARI SEMINAAR - SEMINAR


 

Ratzinger melarang Yves Congar (Teolog Dominikan asal Perancis) ,  Henry De Lubac (Teolog Yesuit asal  Perancis), dan  ....untuk mengajar tentang iman. Daniel Lu, . Ajaran ketiga teolog ini  berbeda dengan pola yang dianuti Kongregasi  Ajaran Iman yang berlandasakan  pada jaran Neo Skolastik. 

Setiap pemikir (Teolog)  menggunakan sudut pandang tertentu dalam menyampaikan ajarannya, misalnya Ratzinger berlandasakan Platonisme.  Teologi Pembebasan menggunakan Marxisme  dan  Rarl Rahner menggunakan Heidegger. Plato dan Marx itu kafir (?)  (ateis?),  mengapa Plato dipakai sebagai rujukan penilaian iman, sedangkan Marx tidak dipakai?





*******

  berdasarkan nama yang mereka kenal dalam tradisi mereka  untuk menjelaskan siapa Yesus  untuk mereka.  Mereka juga mengambil gagasan seperti Penjelmaan Kebijaksanaan Ilahi  dalam Hukum Taurat, seperti ditemukan dalam Literatur Kebijaksanaan.  Dari situ berkembang sebagaimana yang kita temukan dalam Injil Yohanes : Logos yang menjelma menjadi manusia (Yoh 1:18). Refleksi ini menggunakan  tradisi Perjanjian Lama lalu menghasilkan sejumlah gambaran tentang Yesus seperti yang kita temukan dalam Kitab Suci Perjanjian Baru.  Kemudian setelah terjadi refleksi pertama itu, dalam Konteks Budaya Ibrani  oleh Jemaat Perdana, Gereja masuk  ke dalam  budaya Helenis  dengan gaya berpikir yang sangat berbeda  dengan Budaya Ibrani. Pola pikir Ibrani   suka menjelaskan segala sesuatu menurut fungsi.  Mereka bertanya, Yesus itu mempunyai peran apa untuk hidup saya?  Menurut mereka Yesus itu Mesias,yang memerintah kita dan kita harus taat. Dia Hakim  akhir zaman yang mengadili kita. ,   Hamba Yahwe yang memurnikan kita  melalui deritanya. Sabda  yang  menjelma menjadi  Manusia dan  membawa pengetahuan mengenai Allah bagi kita , dan sebagainya.  Dalam Budaya Ibrani Yesus digambarkan secara fungsional, apa yang Yesus buat untuk kita.  Di pihak lain, budaya Helenis suka menjelaskan segala sesuasu menurut Gagasan Kodrat.   Maka ketika Budaya masuk ke dalam Budaya Helenistik dengan wartanya mengenai Yesus  yang melalui gelar kehormatan sangat erat didekatkan pada Allah , mereka dari Budaya Helenis bertanya , menurut KodratNya, Yesus itu apa? Allah kah, manusia kah,  sesuatu di antara. Maka, mulai ada pertentangan besar yang kita amati  selama beberap abad, mulai abad ke- 4 hingga ke 7.  Misalnya, Arius - seorang Teolog dari dunia Helenis  itu -,  menjelaskan Yesus sebagai Penjelmaan Logos.  Logos merupakan makhluk tertinggi  dan satu-satunya yang diciptakan oleh Allah sendiri. Sedangkan yang lain diciptakan oleh Logos itu. Tetapi Logos itu tetap makhluk.  Maka dari  kodrat, Allah itu berkodrat Ilahi,  sedangkan Logos itu Ciptaan meskipun ciptaan tertinggi. Konsili Nicea ( 325 M ? ) menolak pandangan itu dan   mengatakan bahwa Logos, Putera itu  sehakekad dengan Allah Bapa. Sungguh kodrat, menurut  kodratnya sama.  Kemudian,  Setelah penegasan Nicea ini,  Atanasius dan mereka yang membela gagasan dasar dari Konsili Nicea,  mengalami kesulitan untuk menjelaskan perbedaan  antara Bapa dan Putera (Logos) itu.  Mereka  tidak lagi memiliki gagasan untuk menjelaskan perbedaan bila menurut Kodrat,  Bapa dan Putra - Bapa dan Roh Kudus itu sama.  Karena  mereka berpikir dari gagasan Kodrat, mau menjelaskan segala sesuatu  dari segi kodrat. , sehingga setelah dikatakan menurut Kodrat sama, mereka tidak ada gagasan, perbedaannya di mana.  Itu berlangsung lama. Maka setelah ratusan tahun,  sampai puncaknya kepada Pujangga Kapadokia,  membentuk gagasan Hipostasis, yang kita terjemahkan sebagai pribadi  yang difinisikan sebagai kekhasan  yang satu melahirkan, yang lain dilahirkan, lalu Roh itu menghubungi mereka.  Jadi kita lihat bahwa  setiap budaya  mempunyai gagasan kesayangan  dan cenderung mau menjelaskan segala sesuatu menurut budaya itu.  Sehingg pada ajaran pertama dari sejarah itu   kita lihat perubahan dari Budaya Ibrani  ke budaya Helenis , satu faktor yang bisa memicu  terbentuknya penjelasan baru mengenai  Yesus Kristus dan karyanya  alias menghasilkan Teologi baru  ialah gagasan kesayangan. Atau fokus dalam gaya berpikir dan cara menilai yang mewarnai budaya tertentu.  Saya pikir, kalau kita fokus menggunakan budaya tradisional kita yang agraris, saya kira, gagasan kesayangan adalah KESUBURAN DAN KESEHATAN.  Sehingga kalau orang yang berakar dalam budaya tradisional di sini,  kalau mereka memberikan penjelsan tentang Yesus Kristus, mereka kan mengatakan Yesus sebagai Penyembuh Karismatik, sebagai Dukun, Dia yang membawa kesembuhan  supaya kita hidup dalam kondisi kesehatan itu.  Suatu peristiwa penting lain yang menghasilkan  Inkulturasi Teologi Baru dalam Sejarah Gereja ialah bertobatnya Suku-suku Jerman  . Raja Suku Frank, Karl Agung  mendretkan bahwa suku-suku Jerman harus  menggunakan Liturgi Romawi dalam Bahasa Latin,  dan ia mengangkat sejumlah cendekiawan  dari sukunya agar mereka mempelajari karya-karya klasik  dari para Bapa Gereja untuk mengetahui  ajaran dan tradisi Gereja Kristiani.   Dalam proses mempelajari karya Bapa Gereja  yang berpikir dan dan menulis dalam budaya Helenis,  terjadi berbagai salah paham yang memperngaruhi perkembangan Teologi selanjutnya  dan membawa pelbagai hasil dan pengertian baru. Contoh lain (lagi), Para Bapa Gereja Yunani  dan juga Agustinus di Barat  yang menjadi  sumber utama Perkembangan Teologi di Barat  menggunakan Kosmologi Plato  untuk memengerti perayaab Ekaristi  dan Roti serta Anggur Ekaristi  sebagai Tubuh dan Darah Kristus.  Kosmologi Plato diwarnai oleh dualisme antara dunia rohani dan dunia materi.  Dunia rohani, dunia idea  merupakan realitas yang sesungguhnya, sedangkan dunia materi hanya merupakan pantulan  yang kurang berbobot dari dunia idea itu. Maka,  Roti dan Anggur Ekaristi  dimengeri dan dijelaskan sebagai lambang, sebagai kenyataan  dunia materi yang melambangkan atau memantulkan  dunia ilahi, tetapi juga mengandungnya secara riil, biar dalam bobot yang kuraang......(?) tidak sama dengan Kenyataan Ilahi itu sendiri.  Para pemikir Jerman  membaca dan mempelajari  penjelasan itu  dan memahmi lambang tetapi tidak  memahami latar belakang  Kosmologi Plato yang sangat  asing bagi mereka.  Bagi mereka, dunia itu hanya satu   kenyataan yang kelihatan (?)  sebagai dunia di dalamnya kita hidup. Tidak ada dua macam, seperti idea dan materi seperti ide Plato  tetapi  hanya satu  dan kongkrit. Maka mu;ai pertengkaran yang memakan waktu  beberapa ratus tahun , apakah  Roti dan Anggur yang dikonsekrasi  itu gambar atau realita?.  Mereka tidak melihat lambang sebagai gambar yang mengandung dan memantulkan, menjelaskan  realita tetapi mereka .....(?) atau gambar atau realita.  Gambar mereka lihat senagi kosong seperti photo yang kita tempel kalau kita bakar maka orang yang diphoto itu tidak merasa apa-apa.  Kalau kita lihat lagi situasi kita yang kongkrit sekarang ini,   kita bisa mengambil contoh Transsubstantiatio.  Kalau kita baca, Transsubstantiatio itu perubahan substansi . Untuk kita  substansi itu benda yang saya rusakkan ini , bola yang dilempar, sesautu yang bisa dipegang.  Untuk Filsafat Aristoteles yang digunakan untuk Ajaran Transsubtanbtiatio,  substansi merupakan  inti hakekad dari sesuatu  dan segala sesuatu yang bisa dilihat, diraba, dirasa, ditimbang, diteliiti,  itu termasuk aksicentia,  sehingga  kalau kita tanpa banyak penjelasan panjang lebar,   membaca tanbssubtantiatio  kita akan mengerti salah,  kita akan mengerti dalam khayalan dalam mukjizat  di  Reworeke (?)  bahwa Roti menjadi daging.  Untuk pengertian kita sekarang, sesuatu yang substansial daging.  Itu  tidak dimaksudkan dengan transsubstantiatio.  Tetapi kita selalu pelajari  pernyataan yang dibuat dalam budaya lain  dan gampang sekali bahwa kita mengerti secara salah yang penting  setelah itu kita berjuang dengan pengertian yang salah itu. 
Pada abad ke 9 terjadi pertemuan antara Budaya Kristiani dan Budaya Baru  yang memberikan kita pelajaran lain lagi.  St. Sirius dan Methodius  merupakan 2 orang yang kuat berakar dalam budaya Helenis  . Terdorong oleh  budaya Kristiani mereka masuk ke dalam suku-suku Slavia  untuk menyebarkan iman Kristiani di dalam wilayah baru itu.  Savia itu Rusia, Ukraina, Slovakia, Cekoslovakia, dan sebagainya.  Dalam usaha misi itu, mereka  sungguh masuk ke dalam  budaya yang baru  dan rupamya mereka berhasil  memahmi dan menghayati budaya baru itu secara intensif. Mereka menerjemahkan Liturgi ke dalam Bahasa Slavia.  Berbeda dengan Krl Agung yang meyatakan Liturgi Romawi dalam Bahasa Latin.  Mereka  juga membantu Suku-suku Slavia  untuk mengaliskan Bahasa Lisan mereka  ke Bahasa tulisan dengan menciptakan suatu sistem huruf  bagi Bahasa itu dan sampai dewasa ini Budaya Slavia hasik menggunakan huruf reliq (?)  yang  diciptakan oleh St. Sirilus itu.  Juga dalam kesenian, suku-suku Slavia menciptakan tradisi tersendiri yang nyata misalnya dalam lukisan Ikon yang sangat terkenal.  Pelajaran yang kita bisa ambil dari gaya misi Silirus dan Methodius adalah  bila orang yang membawakan iman Kristiani masuk secara sungguh ke dalam Budaya mereka yang kepadanya mereka ingin membawa iman itu,  maka mereka  bisa menghasilkan suatu gaya baru dalam menghayati iman itu yang sesuai dengan budaya yang ke dalamnya mereka  mewartakan iman. Bisa dikatakan Inkultirasi sebagai usaha menerjemahkan iman yang dimiliki dan dihayati dalam budaya asal misionaris itu  ke dalam Bahasa dan penghayatan  plural yang dimiliki oleh mereka yang menjadi sasaran misi itu.  Sedikit ini juga terjadi dalam wilayah kita ini.  Kalau  kita  lihat para misionaris seperti Paul Arnt, SVD ,   Jilis Verheijen, SVD,  yang mempelajari budaya kita ini atau Van Lith   di Jawa,  tetapi  terjadi hanya untuk sebagian karena  dihalangi oleh  pembekuan (pembukuan) Liturgi dan Ajaran Kristiani yang terjadi  sebelum Konsili Vatikan II. Untuk sebagian besar masih terjadi sampai sekarang  juga. 
Kita  perlu melihat situasi  yang terjadi setelah Konsili Trente karena di situ terjadi  atau dibentuk apa yang  menjadi alasan  bahwa dulu tidak ada  inkulturasi . Setelah Konsili Trente, prose Inkulturasi yang  hidup, yang kita amati  dengan beberapa contoh tadi  dimatikan  dan terjadi penyeragaman dalam segala bidang dalam Gereja Katolik. Teoligi diseragamkan dalam Teologi yang kita kenal sebagai Teologi Neo Skolastik atau Neo Thomisme.  Struktur Gereja disentralisasi  dan tidak (?)  dilaksanakan seturut  semangat absolutisme  yang saat itu menjadi dominan  dalam dunia Politik Eropa, sesuadah Machiaveli akhirnya ......... (?) Kita lahir dan kita sebagai Gereja dibentuk oleh gaya non expor (?) / mengeksplor / mengekspor  (?)   Kekeristenan dalam pakaian, dalam budaya Eropa. 
Konsili Vatikan II akhirnya membawa suatu angin baru . Para teolog yang pada dasawarsa 30-an sampai 50-an  berusaha membarui Teologi  dalam Budaya Eropa yang dihukum oleh Roma sehingga tidak boleh mengajar lagi,  mereka mencari jalan keluar melalui kegiatan akademis mereka  dengan mengadakan studi historis  dan mempelajari toeri para Bapa Gereja  dengan bantuan Ilmu Hermeneutika  yang mengajar mereka  untuk mempelajari setiap teks dalam konteksnya yang asli  agar dimengerti dengan baik  dan sesaui dengan maksud asli. Sejumlah teolog terutama di Perancis  seperi  Hendri ke Lubac,  (?) Yves Congar,  (?)    dan di Jerman  Karl Rahner , Scilebex (?) di Belanda   mereka mencari , mereka  sebenarnya mau berdialog dengan  perkembangan yang terjadi dalam budaya tetapi mereka dipangkas , tidak boleh mengajar lagi . Dalam situasi demikian mereka mulai studi sejarah , mereka pelajari teori Bapa-Bapa Gereja mereka dibuat sadar melalui Ilmu Hermeneutika bahwa kita  mesti memperhatikan konteks, jangan kita berpikir kita langsung bisa mengerti , kita mesti menelusuri, sebenarnya punya maksud apa dalam teks asli itu.  Mereka itu kemudian diangkat sebagai penasihat Teologi  dalam Konsili Vatikan II.   Mereka  berhasil membarui pandangan  tentang Gereja  dengan mengintegrasikan kembali  Tradisi milenium pertama ke dalam tradisi yang lebih baru,  yang dipersempit, terutama  pembekuan (?) sesudah Konsili Trente (Thn ........).  Maka yang disebut kelompok onservatif dalam  Konsili itu, mereka mau mau mempertahnkan tradisi baru,  dari sekitar  300 tahun terakhir  sebelum Konsili. Sedangkan kelompok yang dinamakan progresif mau mengintegrasikan kembali nilai-nilai yang diambil  dari tradisi tua milenium pertama.  Di samping itu, di samping  pengaruh tradisi yang lebih tua itu, Dokumen seperti Gaudium et Spes   menimba  juga dari perkembangan  dalam suasana sosial yang terjadi  di Eropa dan Amerika  seperti demokratisasi, kebebasan pers,  kebebasan beragama, kedua hal yang ditolak Gereja pada  awal abad ke 19.  Juga dalam Antroplogi budaya, ada perkembangan penting yang mempengaruhi pandangan Gereja. Paham normtive yang mengangkat Budaya Eropa  sebagai  norma  dari budaya lain  ditinggalkan. Ditegaskan bahwa setiap budaya memiliki nilai dan harganya tersendiri  yang berbeda dari budaya lain tetapi  tidak bisa dinalai sebagai kurang berbobot  karena  perbedaan itu.  Ini situasi di dalamnya kita berada. Kita berusaha untuk  menghayati dan merefleksi  iman kita seturut apa yang diserukan dalam Konsili Vatikan II . Sejak KV II  Sri Paus  dan pimpinan Gereja  Regional , KWI menegaskan perlunya Inkulturasi , mendesak agar terjadi dialog intensive dengan budaya . Tetapi soalnya, kalau mereka omong, tetapi secara kongkrit,  hukum dan struktur Gereja Katolik   disentralisasi lagi secara ketat.  Sehingga  tidak bisa ada dialog  dan  diskusi  bebas dan terbuka   selalu langsung dihentikan dan ditindaki oleh pimpinan Sentral di Roma. Maka selain  membuka diri  terhadap budaya kita sendiri   dan berusaha dengan beberapa contoh tadi  belajar dan bertindak  mencari jalan dalam pertemuan  budaya dan iman kita . Kita perlu  juga  berjuang agar struktur  dan terutama Hukum sentralistis dalam Gereja Katolik  dicairkan dan diatasi  . Sekarang ini  Litirgi, untuk soal terjemahan harus disyahkan oleh Roma. Kita melihat bagaimana terjadi desentralisasi (?)  akan menjadi problem yang nyata dalam  membendung usaha  Inkulturasi.  Sekian dan trima kasih. 

JPS,  10 Feb. 2023. Aku  tulis naskah ini  berdasarkan tuturan Pataer George Kircberger, SVD  dari pkl 18.00 - 21.10 pm. Wow...... Suatu  usaha  yang  luar  biasa. 


Comments

Popular posts from this blog

ST. AGUSTINUS

PATER MARKUS SOLO KEWUTA, SVD

PARA FILSOF