KARYA DOSEN
KARYA DOSEN
SURAT Untuk Tuhan Oleh Pater Dr. Leo Kleden,SVD
https://www.youtube.com/watch?v=3gbBiXQIYp8&t=32s
PUISI SURAT UNTUK TUHAN || Karya P. Dr. Leo Kleden, SVD ||
https://www.youtube.com/watch?v=4TfphoA7lgI
Pada suatu pagi yang biasa dari musim yang sudah kulupa Kutemukan namamu bersama cahaya Dan sejak itulah aku ‘ngembara Mencari engkau tanpa alamat Mula-mula aku bertanya Pada seorang tua yang bijaksana Apakah ia mengenal engkau? Ia cuma menggeleng kepala dan berkata: Ah dia, lebih tua dari gurun lebih muda dari embun mungkin langit masih mengenalnya. Aku melihat kanak-kanak Begitu muda seperti fajar Main kejaran di pantai pasir dan bertanya: Adakah mereka melihat engkau? Semua heran dan berkata: Ia belum tiba di sini Engkau datang terlalu dini. Aku pergi ke taman kota melihat sepasang anak muda Asyik-masyuk dimabuk asmara Mungkinkah mereka mengenal engkau? Yang laki-laki itu berkata: Ia hidup dalam dongeng dari beribu tahun lalu Sisa namanya masih tercatat dalam sebuah perkamen tua. Yang perempuan lalu menambah: Sungguhpun hidup begitu indah Riwayat kita teramat singkat. Pengembara, Mengapa mencari yang sia-sia? Aku mencatat sementara: Lebih tua dari gurun lebih muda dari embun Engkau hidup dalam dongeng dari beribu tahun lalu Apakah namamu sia-sia dan aku datang terlalu dini? Bertahun-tahun kemudian aku mencari seorang filsuf yang berjalan siang hari dengan lampu menyala di tangan, karena bertarung mencari yang benar. Mungkinkah dia mengenal engkau? Sewaktu kami di jalan bertemu, ia besarkan nyala lampu lalu mendugai lubuk mataku, berseru: Pengembara, kita sama pejalan jauh menuju langit yang tak terjangkau. Tentang dia, aku hanya bisa bertanya, filsuf tak pernah punya jawaban. Mungkin sang nabi lebih tahu? Aku pergi kepada sang nabi dan berkata dengan takzim: Salam padamu pewarta firman. Aku yakin, wahai nabi, engkau tahu yang kucari, ceritakan padaku tentang dia. Ia menjawab: Aku bukan seorang nabi. Pewarta sabda hanyalah suara yang berseru di padang gurun: Siapkanlah jalan Tuhan luruskanlah lorong-lorongnya. Aku belum melihat wajahnya dan para nabi sepanjang zaman tidak pernah melihat dia. Dialah cahaya mahacahaya yang memijari matahari dan menyinari lubuk hati. Ia menuntun orang buta, membimbing langkah pengembara. Sedang mata kita yang fana tak bisa menangkap mahacahaya. Kudengar dentang lonceng gereja, memanggil umat beribadah. Aku pergi membawa namamu lalu bertanya kepada pendeta. Ia menjawab: Gereja mewarisi nama ini, memanggil dia dalam ibadah, tapi maknanya tetap rahasia. Coba tanya si ahli kitab, mungkin dia yang lebih tahu. Aku pergi ke ahli kitab, mengucapkan salam dan bertanya, tapi dia tak sempat mendengar. Rupanya sudah berabad-abad ia menggali ayat suci, dan sekarang terperangkap dalam guanya sendiri. Ketika akhirnya kami bertemu kata-katanya begitu pelik sampai aku tak dapat mengerti: Mengapa mesti sekian sulit, membuat namamu rumpil rumit. Adakah relung luka di gua menyesatkan dia dari firmanmu? Aku berpikir, sebaiknya pergi kepada penyair. Dia menyambutku dalam diam, menggumam sajak yang tak selesai: Pada mulanya adalah Sunyi dan Sunyi itu melahirkan Kata dan Kata menciptakan alam semesta dan alam semesta menyanyikan madah. Dan semua madah kembali ke Sunyi di baris terakhir semua puisi. Tapi tak pernah seorang penyair berhasil menulis bait itu. Mungkin pertapa lebih mengenal rahsia Sunyi? Aku pergi ke padang gurun lalu menemui sang pertapa. Ia dulunya seorang kaya, menjual tuntas semua harta dan hidup menyepi mencari Sunyi. Sebelum kutanyakan sepatah kata, ia mendengar debur jantungku, dan berkata: Lebih kaya dari cinta, lebih miskin dari rindu. Itulah dia. Makanya harta yang habis terjual tidak cukup membayar jalan untuk sampai ke hadiratnya. Mungkin sekali fakir miskin lebih mengenal wajah itu. Sesampai ke pondok fakir miskin, aku langsung melupakan namamu. Yang kulihat, yang kuingat, hanyalah wajah kanak-kanak, dengan igauan dalam demam, menjerit pedih minta nasi sedang ibunya menjual diri untuk membeli sepotong roti. Pernah sang ayah mengedar ganja untuk memanen uang murah, tapi semua tinggal mimpi, ia pergi tak pernah kembali. Maka di sini di laut derita, bisakah seorang mengelak teriak dari kapal yang sedang karam? Apa makna semua doa, madah puji dan nyanyi ibadah bagi mereka yang kini tenggelam? Sungguh, di laut duka aku telah melupakan engkau. Namamu – tak lagi penting untuk diriku, dan mungkin namaku tak pernah berarti untukmu jua. Tapi mengapa di siang ini, ketika hibuk dalam letih, sesudah hilang semua pamrih, tiada terduga engkau tiba: O Cahaya mahacahaya, Sunyi suci yang melahirkan Kata, lebih kaya dari cinta lebih miskin dari rindu, di tengah wajah kanak-kanak lapar, aku sujud menyembah engkau.
Diam atau Melawan : Misi Paus Leo XIV Terhadap Kapitalisme
Liberal tanpa Kendali
https://mediaindonesia.com/opini/772975/diam-atau-melawan--misi-paus-leo-xiv-terhadap-kapitalisme-liberal-tanpa-kendali
Alexander
Jebadu, Dosen Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero-Flores
nomen
est omen, secara harfiah berarti, nama adalah makna. Itu
artinya nama adalah sebuah tanda yang menunjukkan siapa dan apa yang
diperjuangkan oleh penyandang nama tersebut.
The
Wealth of Nations dari Adam Smith sebagai sumber suci bagi ekonomi kapitalis
liberal yang terbit pada tahun 1776)
Karl
Max seorang diri dengan menerbitkan Das Capital tahun 1867 (91 tahun setelah
penerbitan The Wealth of Nations tahun 1776).
Dalam
buku tersebut, Karl Max bahkan merancang sistem ekonomi sosialis/komunis yang
pada intinya menghapus hak-hak individu dari kebebasan liar untuk
mengeksploitasi sumber-sumber daya ekonomi yang diusung Adam Smith dalam The
Wealth of Nations.
Reaksi
dan tanggapan Gereja juga tidak kalah daya terjangnya. Untuk pertama kalinya
Gereja bersuara sangat keras. Dari sekian banyak ensiklik yang sudah diterbikan
para paus selama sekitar 15 abad sebelumnya, melalui Ensiklik Rerum Novarum
(1891), 115 tahun setelah penerbitan The Wealth of Nations (1776) dan 44
tahun setelah penerbitan The Communist Manifesto ( 1848) dan 24 tahun setelah
penerbitan Das Capital (1867), untuk pertama kalinya dalam sejarah
kekristenan, Gereja Katolik melalui Paus
Leo XIII berbicara kepada dunia untuk
memberikan kritikan kenabian, dan mengusulkan jalan keluar dari masalah
kekerasan dan ketidakadilan sosial ekonomi yang menimpa warga masyarakat dunia,
yang ditimbulkan oleh dua sistem ekonomi yang saling bertentangan ini.
Paus Leo XIII menyuarakan kritikannya dalam Ensiklik
Rerum Novarum yang secara harafiah artinya “Hal-Hal Baru”.
Untuk Gereja Katolik pada masa itu, hal-hal baru dimaksud ialah kekerasan dan
ketidakadilan sosial ekonomi.
Melalui Rerum Novarum, Paus Leo XIII atas nama Allah mendesak
untuk menegakkan 11 hal sebagai berikut. Pertama, pekerjaan manusia mesti
dihargai dan dihormati dengan upah yang adil. Kedua, negara
bertanggungjawab untuk melindungi hak-hak pekerja, memastikan kondisi kerja
yang adil, dan mempromosikan keadilan sosial.
Ketiga, negara harus mengintervensi usaha ekonomi untuk menjaga
kebaikan bersama. Keempat, hak milik pribadi diakui tetapi penggunaannya mesti
disertai dengan rasa tanggung jawab terhadap kesejahteraan bersama. Kelima,
pemilik barang memiliki kewajiban untuk menggunakan harta benda mereka demi
keuntungan orang lain dan kebaikan bersama.
Lalu, keenam, para pekerja memiliki hak untuk membentuk serikat
pekerja, berunding bersama dan menerima upah yang adil. Ketujuh, pengusaha
harus menyediakan kondisi kerja yang aman dan memperlakukan pekerja secara
bermartabat. Kedelapan, solidaritas antarkelas sosial sangat penting untuk
membangun masyarakat yang adil.
Kesembilan, keluarga merupakan fondasi masyarakat dan
kestabilannya sangat penting bagi masyarakat. Kesepuluh, pendidikan sangat
penting bagi pengembangan manusia dan etika sangat penting dalam mengambil
setiap keputusan bisnis dan ekonomi. Kesebelas, keadilan sosial, kebaikan
bersama dan perlindungan hak asasi manusia, khususnya bagi anggota masyarakat yang
paling rentan sangat penting dan menjadi prasyarat bagi perdamaian.
Paus Leo XIII menyuarakan kritikannya dalam Ensiklik Rerum
Novarum yang secara harafiah artinya “Hal-Hal Baru”. Untuk Gereja
Katolik pada masa itu, hal-hal baru dimaksud ialah kekerasan dan ketidakadilan
sosial ekonomi.
Melalui Rerum Novarum, Paus Leo XIII atas nama Allah mendesak
untuk menegakkan 11 hal sebagai berikut. Pertama, pekerjaan manusia mesti
dihargai dan dihormati dengan upah yang adil. Kedua, negara
bertanggungjawab untuk melindungi hak-hak pekerja, memastikan kondisi kerja
yang adil, dan mempromosikan keadilan sosial.
Ketiga, negara harus mengintervensi usaha ekonomi untuk menjaga
kebaikan bersama. Keempat, hak milik pribadi diakui tetapi penggunaannya mesti
disertai dengan rasa tanggung jawab terhadap kesejahteraan bersama. Kelima,
pemilik barang memiliki kewajiban untuk menggunakan harta benda mereka demi
keuntungan orang lain dan kebaikan bersama.
Lalu, keenam, para pekerja memiliki hak untuk membentuk serikat
pekerja, berunding bersama dan menerima upah yang adil. Ketujuh, pengusaha
harus menyediakan kondisi kerja yang aman dan memperlakukan pekerja secara
bermartabat. Kedelapan, solidaritas antarkelas sosial sangat penting untuk
membangun masyarakat yang adil.
Kesembilan, keluarga merupakan fondasi masyarakat dan
kestabilannya sangat penting bagi masyarakat. Kesepuluh, pendidikan sangat
penting bagi pengembangan manusia dan etika sangat penting dalam mengambil
setiap keputusan bisnis dan ekonomi. Kesebelas, keadilan sosial, kebaikan
bersama dan perlindungan hak asasi manusia, khususnya bagi anggota masyarakat
yang paling rentan sangat penting dan menjadi prasyarat bagi perdamaian.
Kapitalisme liberal
tanpa kendali
Dampak yang terjadi ialah sebaliknya. Sistem ekonomi liberal ini
tetap berjalan seperti biasa. Akibatnya, selain semakin memiskinkan warga
miskin, ketidakadilan dalam mengeksploitasi sumber daya alam planet bumi di
antara negara-negara pengusung kapitalisme liberal sendiri ternyata akhirnya
memicu lahirkan Perang Dunia I dan II (PD I & II).
Bukti kasatmata bahwa PD I & II disebabkan oleh kekerasan dan
ketakadilan dari sistem ekonomi liberal adalah, bahwa perang ini harus diakhiri
dengan menata kembali ekonomi dunia di antara negara sekutu PD II melalui
Konferensi tiga Minggu 1-22 Juli 1944 di Bretton Woods Amerika Serikat.
Konferensi ini menghasilkan sebuah kesepakatan bersama yang disebut Tata
Ekonomi Dunia Baru (The New World Economic Order) yang ditandai dengan
didirikannya Bank Dunia, IMF dan GATT/WTO.
Disepakati bersama dalam konferensi itu, bahwa kapitalisme liberal
klasik Adam Smith harus ditinggalkan dan diganti dengan sebuah kapitalisme yang
lebih lunak yang lazim disebut kapitalisme nasional (state / national
capitalism) atau kapitalisme liberal terkendali (regulated liberal
capitalism). Tujuan tata ekonomi dunia baru ini tak main-main, bahkan
sangat suci, yaitu menciptakan ekonomi dunia seadil-adilnya supaya tidak
terjadi lagi perang besar di planet bumi seperti yang pernah terjadi yakni PD I
& II.
Akan tetapi tak lama setelah PD II berakhir, negara-negara
pengusung kapitalisme liberal Barat di bawah pimpinan Amerika Serikat
mengelompokkan diri menjadi apa yang disebut Blok Barat (Western Block). Grup
ini berbenturan kepentingan dengan kelompok negara Eropa Timur yang mengusung
sistem sosialis-komunis yang kemudian menjadi Blok Timur (Eastern Block) di
bawah pimpinan Uni Soviet.
Benturan antara kedua kelompok pengusung dua sistem ekonomi yang
bertentangan ini menciptakan ketegangan luar biasa yang kemudian disebut Perang
Dingin (Cold War) dari tahun 1946 hingga keruntuhan Uni Soviet tahun 1989.
Tapi titik baru muncul tahun 1989. Saat itu rezim pengusung
ekonomi komunis, runtuh yang ditandai reformasi GATT menjadi WTO pada tahun
1995. Akibatnya bisa ditebak. Sistem ekonomi kapitalis liberal leluasa
beroperasi tanpa ekonomi tandingannya. Ia diibaratkan sebagai seorang petinju
yang masuk ring tanpa lawan tanding. Ia pun bisa keluar ring dan meninju siapa
saja yang ia jumpai. Ia menyerang semakin gila sehingga disebut wild
capitalism atau jungle capitalism (ekonomi dengan
gunakan hukum rimba) atau uncontrolled free market economy (ekonomi
pasar bebas tanpa kendali).
Cara beroperasinya tidak kelihatan. Semua dengan jalan rahasia, diam-diam dan
tanpa diketahui banyak orang. Juga tanpa melalui kesepakatan bersama, melalui
sebuah konferensi ekonomi dunia seperti yang terjadi di Breton Woods pada tahun
1944.
Coba bayangkan. Sejak awal tahun 1980-an, resep-resep ekonomi
liberal klasik Adam Smith, yang dikubur mati pada tahun 1944, diimplementasikan
lagi secara diam-diam dan dipaksa oleh negara-negara kreditur untuk diterapkan
di negara-negara berkembang yang sudah terlebih dahulu dijerat dengan utang
luar negeri pada Bank Dunia dan IMF sejak akhir tahun 1960-an.
Itulah sebabnya, ia disebut ekonomi neoliberal karena ekonomi
pasar bebas tanpa kendali ini merupakan re-inkarnasi dari ekonomi liberal
klasik Adam Smith yang dikubur mati pada tahun 1944. Untuk mengamankan
pengeksloitasiannya secara bebas tanpa batas ini, pengusungnya, yaitu orang
kaya, mengamankan ekonomi ini dengan dengan berlomba-lomba membuat dan
menumpukkan senjata termasuk senjata nuklir. Senjata ini jelas dipakai untuk
mengamankan ekonomi pasar bebas yang menguntungkan mereka.
Buah pahit
Tak terhindarkan lagi, buah pahit sepak terjang sistem ini
menyebar dengan sangat massif. Kekerasan merajalela silih berganti tanpa akhir.
Perang Teluk (1991), perang lawan terorisme (sejak 2001), konflik suku di
Afrika, konflik Sampit, konflik Poso dan Papua, semuanya lahir dari rahim dunia
yang mengusung ekonomi pasar bebas tanpa kendali (neoliberalisme).
Belum lagi dengan masalah krisis ekologi, perubahan iklim (climate
change), pemanasan global (global warming), bencana alam,
perdagangan orang (human trafficking), korupsi publik, pertambangan
ilegal, industri geotermal yang dipaksakan, kecurangan pilpres dan pilkada di
Indonesia dengan menginjak konstitusi. Semuanya merupakan buat pahit dari
sistem ekonomi yang menganut hukum rimba ini, yaitu ekonomi pasar bebas tanpa
kendali.
Di dalam Gereja Katolik, semua masalah ini telah menjadi
keprihatinan Gereja sejak Paus Leo XIII hingga Paus Leo XIV ini. Dalam Ensiklik
Evangelii Gaudium (2013), misalnya, Paus Fransiskus menyebut kapitalisme
sebagai tirani tanpa batas dan berhala uang.
Di dalam Ensiklik Laudato si (2015) Paus Fransiskus mengeritik
budaya konsumerisme (throw away mentality) sebagai buah ekonomi
kapitalis yang mengusung pertumbuhan ekonomi tanpa batas. Dunia ini semakin
maju, kata Paus Fransiskus, tapi banyak sekali yang masih miskin karena dunia
dikibuli oleh sebuah teori ekonomi (trickle-down effect economic
theory) yang kebenarannya tidak pernah didukung fakta.
Coba lihat di level dunia. Ada beberapa negara yang sudah mencapai
kemajuan yang berlebih (over-developed), sementara ada banyak negara
lain malah mundur ke belakang (backward). Baik secara global,
regional maupun nasional, segelintir orang kaya semakin kaya dan mayoritas
orang miskin semakin miskin.
Menurut Eric Tossain dalam buku Debts, IMF dan World Bank (2010),
80% dari 8 milliar penduduk dunia mengkonsumsi hanya 20% dari kue kekayaan alam
planet bumi. Sementara 80% kue ekonomi ini dikonsumsi oleh 20% dari 8
milliar penduduk dunia yang kaya.
Kiprah Paus Leo XIV
Di tengah-tengah sistem liberal tanpa kendali seperti inilah Paus
Leo XIV memulai karya kepausannya. Ketidakadilan semakin melebar dan kemiskinan
semakin merebak.
Sambil menantikan penuh harap kiprah-kiprah Paus Leo XIV dan tanpa
bermaksud untuk mendahuluinya, di sini, saya hanya ingin mengutip Felix
Wilfred, seorang teolog India (1996), yang terhadap orang miskin sebagai korban
kapitalisme liberal, dia mengatakan: “Jika kita ingin supaya misi keperpihakan
Gereja terhadap orang miskin (option for the poor) dan terpinggirkan (the
marginalized) bisa efektif, maka mau tidak mau hal itu mesti diperjuangkan
dengan berdiri melawan sistem ekonomi yang berlaku saat ini, yakni
ekonomi kapitalis liberal.
Kita tidak bisa membela orang miskin tapi pada saat yang sama kita
mendukung sistem ekonomi yang memangsa orang miskin. Bela orang miskin berarti
harus melawan sistem ekonomi yang memiskinan mereka.”
Dengan memilih nama Leo XIV, tampak jelas apa yang menjadi
keprihatinan misi pelayanan Paus baru ini. Bersama semua orang yang berkehendak
baik dan terutama bersama Allah sendiri, dia mau memperjuangkan sebuah dunia
yang damai di atas wadah praktik kasih, keadilan dan persaudaraan semua umat
manusia apa pun agama, suku dan bangsanya, serta memerangi semua struktur
sosial ekonomi yang merusak kasih, keadilan dan persaudaraan. Demi kebaikan
bersama semua umat manusia, atas nama Allah dia harus berdiri dan melawan!
Comments
Post a Comment