STUDIUM GENERALE - STFK (IFTK) LEDALERO

 STUDIUM GENERALE - STFK LEDALERO


Sumber: WAG ALUMNI STFK LEDALERO JABODETABEK



Seri Kuliah Umum ‘Teori Keadilan’ Berakhir, Peserta Berikan Apresiasi dan Saran untuk STFK Ledalero


Rangkaian Studium Generale (Kuliah Umum) ‘Teori Keadilan’ yang diselenggarakan oleh Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero berakhir pada Sabtu (23/10). Kegiatan yang selama 6 pekan dijalankan di Hotel Pelita Maumere pada setiap hari Sabtu ini ditutup dengan sebuah evaluasi selama 30 menit. Dalam kesempatan tersebut, sejumlah peserta menyampaikan apresiasi dan saran mereka terhadap STFK Ledalero. “Kuliah umum ini sangat bagus. Saya ingin belajar filsafat. Namun, program sarjana yang berlangsung 4 tahun itu terlalu lama untuk orang tua macam kami ini. Semoga STFK Ledalero membuka program diploma,” ungkap Melki Gobang, salah satu peserta yang setia hadir dalam setiap sesi kuliah umum. “Kuliah umum seperti ini membantu kami memiliki pendasaran yang bagus untuk perjuangan kami. Karena itu, sebaiknya tetap dibuka untuk kesempatan selanjutnya,” kata John Bala, aktivis HAM. “Untuk selanjutnya, tema kuliah umum mesti diperluas dengan menambahkan tema ilmu sosial, teologi, atau moral,” ungkap Lodi Darman, mahasiswa Semester VII STFK Ledalero. Salah satu peserta lainnya, Robi Keupung, mengapresiasi langkah kreatif STFK Ledalero yang telah membuka kuliah umum ini. Namun, Robi juga mengatakan, peserta mahasiswa kurang representatif, sebab selama kuliah umum berlangsung peserta mahasiswa hanya dari internal STFK Ledalero sendiri dan tidak ada mahasiswa baik dari Unipa Maumere dan Ikip Muhammadiyah.  



Dalam komentarnya, Dr. Yosef Keladu Koten, ketua urusan akademik STFK Ledalero, mengatakan, STFK Ledalero berusaha membuka kembali kuliah umum pada kesempatan berikutnya dengan tema yang baru dan dengan jangkauan peserta yang cukup representatif menurut latarbelakang profesi. Ia juga menambahkan, saran yang diberikan oleh peserta kuliah umum ini akan menjadi bahan pertimbangan STFK Ledalero dalam menyelenggarakan kuliah umum selanjutnya. Menurut Dr. Yosef, kuliah umum bertujuan mengajak publik, khususnya masyarakat Maumere, untuk berpikir dan berefleksi tentang realitas secara filosofis. Pada saat yang sama, melalui kuliah umum ini diharapkan terjadi dialog pengetahuan, sehingga mampu memperluas wawasan dan cara berpikir. Jawaban Dr. Yosef disambut gembira oleh para peserta yang terdiri atas mahasiswa, anggota DPRD Sikka, dosen, dan aktivis.   



Studium Generale yang telah berlangsung selama enam (6) pekan ini menghadirkan 6 pembicara, yang semuanya merupakan dosen di STFK Ledalero. Setiap sesi kuliah umum berlangsung mulai pukul 16:00 hingga 19:30 WITA. Hari pertama dimulai pada Sabtu (18/9) oleh Dr. Yosef Keladu Koten, dosen filsafat politik, dengan topik ‘Tindakan Moral: Sebuah Pengantar’. Menurut Dr. Yosef, untuk menganalisis tindakan moral dibutuhkan pendekatan multiperspektif, seperti perspektif filosofis, teologis, dialog antaragama, dan sosio-politik. Menurut Dr. Yosef, ada dua prinsip etis dalam menilai tindakan pribadi atau kolektif (negara). Prinsip pertama adalah utilitarian, di mana tindakan negara dinilai baik atau adil kalau mendatangkan kegunaan atau kebahagiaan sebesar-besarya bagi sebagian besar orang dan dianggap buruk kalau mendatangkan penderitaan atau kerugian. Prinsip kedua adalah libertarian, di mana tindakan negara dianggap baik kalau meningkatkan hak asasi manusia atau secara khusus kebebasan warga negara. 



Pada sesi kedua, Sabtu (25/9), Dr. Otto Gusti Madung, Ketua STFK Ledalero sekaligus dosen filsafat politik dan HAM, membawakan materi dengan topik ‘Diskursus tentang Keadilan Distributif dalam Pemikiran Politik Kontemporer (Rawls, Nozik, dan Sandel)’. “Keadilan memiliki tiga ciri esensial,” demikian Dr. Otto, “yaitu pertama, keadilan selalu berkaitan atau terarah kepada orang lain. Kedua, keadilan menuntut untuk dipenuhi atau dijalankan. Ketiga, keadilan menuntut persamaan.” Sebagai akademisi yang telah makan garam dalam mengadvokasi persoalan seputar HAM, materi tersebut dibawakan Dr. Otto dengan sangat baik. 


Pada sesi ketiga, Robert Mirsel, dosen sosiologi dan peneliti pada Puslit Candraditya Maumere serta mantan Ketua Vivat International, membawakan materi berjudul ‘Tujuan Pembangunan Berkelanjutan untuk Dunia yang Lebih Adil’ pada Sabtu (2/10). Menurut Robert Mirsel, pembangunan mesti berkarakter transformatif. Artinya, setiap aktivitas pembangunan mesti terarah pada perubahan yang signifikan dan universal, sehingga semua orang merasakannya. Robert Mirsel sendiri merupakan akademisi-praktisi yang selama beberapa tahun bekerja di New York dan bekerja sama dengan PBB dalam menanggapi isu-isu global terkait pembangunan berkelanjutan. 



Pekan keempat kuliah umum dibawakan oleh Dr. Mathias Daven, dosen filsafat, dengan materi berjudul ‘Toleransi dan Klaim Kebenaran dalam Konteks Dialog Antaragama di Indonesia’. Berbeda dari pekan sebelumnya yang berkonsentrasi pada persoalan filosofis, kali ini, Dr. Mathias menghantar peserta pada sebuah permenungan tentang fenomena seputar agama di Indonesia. Sebab itu, tema fundamentalisme dan radikalisme agama menjadi hal penting yang dibicarakan Dr. Mathias.Topik ini berhasil menggugah nalar diskursif peserta diskusi. 



Pada pekan kelima, Dr. Leo Kleden, dosen hermeneutika dan filsafat manusia, membawakan materi ‘Keadilan Allah: Merespons Kejahatan dan Penderitaan dalam Dunia’ pada Sabtu (16/10).  Sedikit berbeda dari metode yang digunakan para pembicara sebelumnya, kali ini, Dr. Leo menggunakan metode campuran, yakni spekulatif-naratif. Persoalan tentang penderitaan tidak hanya dibicarakan dengan pendekatan pemikiran para tokoh filsafat dan teologi, tetapi juga dengan menggunakan peristiwa nyata yang dialami umat manusia sepanjang sejarah peradaban, seperti Holocaust, pembantaian massal 1965/6, atau peristiwa Timor Timur (Timor Leste). Pada akhir pemaparannya, Dr. Leo mengatakan, kisah Ayub dalam kitab suci Kristiani dapat menjadi representasi sikap yang benar di hadapan pengalaman akan penderitaan.  



Dr. Felix Baghi, dosen  estetika dan filsfafat lingkungan hidup, menjadi pembicara terakhir dari seri kuliah umum Teori Keadilan ini. Dr. Felix membawakan materi dengan judul ‘Keadilan Transisional: Merespons Ketidakadilan di Masa Lalu’ yang terjadi pada Sabtu (23/10). Dalam pemaparannya, Dr. Felix menegaskan, memori amat penting dalam konteks pencarian kebenaran masa lalu dan juga sebagai dasar untuk mengerti keadilan transisional. “Di sini, kita berbicara tentang hubungan antara memori, keterlupaan dan pengampunan. Pertanyaan yang penting dalam memori bukan siapa yang mengingat, tetapi apa atau siapa yang diingat dan bagaimana orang mengingat? Apa yang membuat ingatan itu menjadi penting dan menyenangkan, serta apa alasannya?” tegas Dr. Felix. Sebab itu, pelecehan terhadap memori, demikian Dr. Felix, menjadi sebuah ancaman terhadap upaya mencari kebenaran dari peristiwa masa lalu. 



Sejak pekan pertama hingga pekan terakhir, jumlah peserta kuliah umum Teori Keadilan ini cenderung tidak stabil. Pada pekan tertentu jumlah peserta meningkat, sedangkan pada pekan lainnya peserta berkurang. Memang, pihak STFK Ledalero sendiri sejak awal memberlakukan pembatasan kuota peserta kuliah umum dengan beberapa alasan, termasuk protokol kesehatan di masa pandemi Covid-19. Pada akhir kuliah umum ini, Dr. Yosef Keladu juga menginformasikan bahwa STFK Ledalero akan mendokumentasikan materi kuliah umum ini dalam sebuah buku khusus. Sebab itu, baik para peserta maupun masyarakat yang tidak mengikuti kuliah umum selama beberapa pekan tersebut dapat membaca materi dari buku tersebut. Selain itu, publik juga bisa mengakses kuliah umum tersebut melalui kanal youtube STFK Ledalero.




By: Sarnus Joni Harto (Mahasiswa STFK Ledalero)


_________

https://www.youtube.com/watch?v=-jjeuhKYjEg


Keynote Speaker: Dr. Paulus Budi Kleden Moderator: Dr. Petrus Sina IFTK Ledalero Auditorium | 08.30 AM


Pater Leo Kleden, SVD

Pemahaman kita terhadap sesuatu tergantung konteks.

Tentang alam dan manusia, 3 kelompok manusia punya pandangan yang berbeda:

Manusia pramodern (peramu) , melihat alam sebagai ibu bumi yang berlimpah ruah, tidak terbatas. 

Manusia Modern : melihat alam sebagai  obyek  semata-mata yang harus ditundukkan (diexploitasi) hanya untuk kepentingan manusia dengan dampak seperti yang kita rasakan sekarang.

Manusia Postmodern:  alam dilihat sebagai lingkup hidup (home) di mana kita mengada. 


Tentang alam dan manusia, 3 kelompok manusia punya pandangan yang berbeda:

Manusia pramodern (peramu) , mereleksikan  diri (pribadi)  sebagai kondisi terberi dari masyrarakat  dan alam 

Manusia modern, mereleksikan  diri (pribadi)  sebagai subyek yang otonom, rasional   dan individual.

Manusia Postmodern:  mereleksikan manusia sebagai makhluk yang berada bersama yang lain  dalam dunia. 

Cara pandang ini, berbeda, dalam bidang religius, moral, 


Ada krisis, kerancuan  dari para peserta didik dan  bahkan pendidik.


JPS, 26 Desember 2022.

__________

https://www.youtube.com/watch?v=d16g5b7eiKo


Manusia. Siapakah manusia?

Menurut Aristoteles sebagaimana yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Latin one Thomas Aquinas: Manusia dalah  binatang berakal budi ( animal rationale).

Menurut Pater  Dr. Leo Kleden, manusia adalah makhluk yang berbudi bahasa.


JPS, 26 Desember 2022.

_________

Berfilsafat dan Berteologi di Indonesia

Dr. Paul Budi Kleden,SVD  menguntil Anselmus dari Canterbury (1033 -1109) :  Fides quarens intellectum (iman mencari pengertian).  

Pater Paul Budi,SVD membeberkan  3 rumpun masalah Teologi  - Filsafat. Saya menambahkan satu rumpul yakni Individu. Berbagai masalah yang dihadapi umat manusia, termasuk  Filsafat  - Teologi.   Mengapa  ada beragam persoalan umat manusia?  Salah satu hal yang menonjol  dari sikap persona/ individu adalah  sikap kecurigaan terhadap Allah sebagai  pemberi jaminan eksistensi. Itu yang kita lihat dalam dosa asal.  Pasangan manusia pertama, Adam dan Hawa,  mencurigai perintah  atau larangan yang  Tuhan sampaikan.  Ini kelamahan dasariah yang umay manusia miliki. Maka kita perlu bertransformasi,  harus membangun  mebangun sikap percaya pada Allah sebagai dasar keselamatan kita. 



simbolis  dalam mitos, cerita, wayang,  sastra, puisi, hikayat  yang menginspirasi  suatu masyarakat.  Dengan 3 lapisan ini,  kebudayaan yang hidup mengami  2 gerakan sekaligus.  Pertama, gerakan sentripetal, menuju ke pusat (mempertahankan diri)  dan kedua, gerakan  sentrifugal, gerakan mengembangkan tapi juga bisa memecah.  Kebudayaan bertahan sejauh  sejauh mampu menjaga keseimbangan antara 2 grakan tadi.  Jika tidak, kebudayaan itu  runtuh dan hancur sama sekali.  Lihat saja  kebudayaan Inca di Amerika Selatan. Apapun alasannya,  itu karena sari patinya  hilang.  Israel dihancurkan berkali-kali secara politik  tapi kisah mereka tidak hilang sehingga tetap bertahan  sampai sekarang.  Dalam konteks Indonesia, Pancasila  bida dibaca sebagai keberhasilan founding fathers  melalui Soekarno cs  merumuskan sari pati  budaya Indonesia, kebudyaan kita.  Kita harus sungguh menjaga itu. 

Berkaitan dengan makalah Pater Budi di mana Agama di Indonesia terooptasi  politik,. Sehubungan  dengan kenyataan ini  pada hemat saya, Filsafat politik yang terlibat adalah kritik  yang menjaga agama agar jangan sampai  menjadi  ideologi.  Dalam sejarah pemikiran (Filsafat?),  Ideologi itu  memiliki 3 peran. Agama bisa memainkan peran itu.Ideologi memainkan  3 peran yang berbeda, pertama,  distorsi kenyatataan sosial sebagai ditunjukkan oleh Marx.  Pancasila adalah Ideologi dari Negara Indonesia.  Tapi pernah terjadi bahwa Soeharto  telah memakainya sebagai sarana distorsi dan manipulasi sosial.  Pada masa pemerintahannya, - mahasiswa yang muda-muda tidak mengalami tetpi kami mengalami -  apapun kritik terhadap Soeharto   dianggap sebagai anti Pancasila.  Pemuka-pemuka agama diorganisasikan untuk  mendukung pemerintah yang otoriter saat itu.   Maka kritik terhadap Soeharto dianggap sebagai pembangkangan terhadap pemerintah yang sah dan menentang Allah. Itu distorsi.  Kedua, ideologi bertugas sebagai legitimasi kekuasaan.  Sebagaimana dirumuskan oleh Weber. Dalam kampanye PEMILU yang lalu misalnya,   para politisi berlomba lomba menemui tokoh agama, kiai -kiai besar   yang berpengaruh  . Ini untuk memberikan legitimasi religius  atas kekuasaan yang diembannya.   Kemudiaan, waktu pelantikan pejabat agama harus hadir , sesudahnya ada syukuran yang dipimpin oleh kiai atau Ekaristi yang dipimpin oleh Pastor.  Tampaknya memang bagus, tetapi kita harus tetap menjaga   jarak profetis  sehingga agama tidak menjadi alat politik  sebagai  sarana untuk melegitimasi kekuasaan semata-mata.  Peran ketiga ideologi adalah  sarana integrasi sosial.  Sebagaimana dijelsakan oleh Cliford Geertz. Pancasila misalnya berperan untuk mengintegrasikan Indonesia yang dibangun oleh beragam suku, etnis dan ras serta msarakat yang terdiri dari ribuan pulau.  Ini fungsi terbaik ideologi.  Agama harus mendukung peran ketiga ini, tanpa membiarkan diri terkooptasi  oleh pihak penguasa politik.  

Poin berikut yang saya mau angkat  sebagaimana yang disinggung Pater Payl adalah kompasio bagi yang menderita.  Saya mau  menggunakan istilah dialog profetis dengan  mereka  yang menderita dan terpinggirkan.  Dailog dalam arti - ini kutipan dari Gaudium et Spes,  sikap solider , hormat dan kasih   dalam semua tindakan kita terhadap sesama.  


Berkaitan dengan Bertelologi dari Konteks Indonesia, saya (Pater Leo Kleden, SVD) berpendapat bahwa Teologi Dogmatik harus dilengkapi dengan  Teologi Naratif.  Mengapa? Paling  tidak ada lima alasan berikut:
Pertama,   Firman Tuhan disampaikan kepada kita  bukan pertama-tama melalui doktrin tetapi melalui kisah, yaitu kisah penyelamatan Allah dan kita mendengarnya melalui  kisah.
Kedua,  dalam kebudayaan asli, leluhur kita memberikan ajaran moral dan agama  melalui  kisah, mitos, hikayat, bukan  dogma. 
Ketiga, kalau Teolog  yang terlibat sungguh mau melibatkan umat yang sederhana  dalam proses berteologi  maka kita perlu membiarkan mereka bercerita.  
Keempat,   Hermeneutika Kontemporer  sudah  membuktikan bahwa identitas manusia adalah identitas naratif, artinya kita hanya memahami diri sebagai individu , masyarakat, bangsa  dalam rajutan sebuah kisah. 
Kelima, kalau dogma cenderung memaksakan suatu kerangka teologis  karena itu monolitik,   kisah sebaliknya menjaga tegangan kreatif antara kesatuan dan pluralitas, bhineka tunggal ika, kesatuan dan pluralitas.  Kesatuaan kisah itu tetap sama,  tetapi setiap kali itu diceriterakan , orang memahami dan mengaplikasi atas cara  berbeda  dan konteks berbeda.  Dan untuk menghormati mereka yang menjadi korban dan tidak bersuara.  Dan sedikit sebagai contoh , eksperimen tentang bagaimana  membuat Teologi Naratif,   saya membuat eksperimen ini dalam kotbah, dalam renungan, retret, . Saya mau mengakhiri  tanggapan ini dengan sebuah (suatu?) contoh  kisah yang saya beri judul:  

ADINA 

Awal dulan Desember tahun 1997.  Saya diminta untuk menjadi fasilitator kegiatan HAM  di Timor Timur.  Timor Leste belum ada waktu itu, yang ada hanya Timor Timur. Waktu itu Soeharto dan militer masih kuat berkuasa sehingga pelatihan kami buat dengan amat rahasia. Ada 24 peserta.  Selama  3 hari pertama,  proses dialog dan interaksi sangat sulit. Di kalangan peserta ada terlalu banyak perasaan amarah, kebencian, curiga,  keterlukaan yang menghalangi  proses itu.   Maka seorang rekan yang berpengalaman dari Jakarta meminta saya untuk memimpin kebaktian doa dan sharing   di mana peserta-peserta diberikan kesempatan mengungkapkan pengalaman  dan perasaan traumatis mereka.  Petang hari kami berkumpul di sebuah kapel kecil.  Semua duduk di lantai  membentuk lingkaran . Di tengah-tengah kami nyalakan sebatang lilin. Bulan Desember. Itu  lilin Adven, lilin harapan.  Lalu kami membaca teks indah sekali dari   Yesaya 35 yang memaklumkan kedatangan Tuhan  yang memberikan Penyelamatan. " Padang gurun akan mekar dan berbunga,  orang-orang yang sakit akan disembuhkan, . Kami baca juga Yes 65, tentang Bumi dan Laingit Baru.   Kemudian saya meminta kepada peserta untuk mensharingkan pengalaman mereka.  Beberapa dari mereka berbicara dan kami mendengar.  Lalu seorang perempuan yang sangat kurus,   berdiri. Ia berjalan ke tengah lingkaran , duduk di samping lilin,  lalu mengisahkan kisah penderitaan panjang.  Namanya Alaxandrina, kami memanggilnya  ADINA  . Ketika  ia berusia 6 tahun, kedua orang tuanya ditangkap oleh tentara Indonesia.  Sejak itu, ia tidak pernah melihat mereka lagi.   Beberapa saksi mata menyatakan bahwa mereka  ditembak mati di hutan. ADINA tinggal dengan kakak laki-laki  yang sudah bergabung dengan Pasukan Fretelin di hutan yang memperjuangkan kemerdekaan Timor - Timur.   Beberapa tahun kemudian, saudaranya itu ditangkap oleh serdadu Indonesia.  Mereka menganiaya dia, memotong alat kelaminnya,   dan membiarkan dia mati dengan cara yang sangat mengenaskan.  ADINA merapi kematian kakaknya dengan sangat sedih.   Tapi ia bersumpah pada dirinya  untuk  melanjutkan perjuangannya.  Ketika ADINA di SMA,  militer menahan dia, persis ketika ia memberi makanan kepada seorang pemuda yang datang dari  hutan ke kampung.   Mereka menuduhnya sebagai kaki tangan Fretelin.  Mereka menganiaya ADINA sampai pingsan lalu  memperkosanya.  Sampai di sini, ADINA  tidak dapat melanjutkan kisahnya.  Hanya air matanya mengalir.   Diam di seluruh kapel.  Saya tak tahu berapa lama, tapi rasanya berabad-abad.  Lalu ADINA mengumpulkan seluruh tenagamya,  menatap saya dan bertanya dengan suara parau : "Coba, katakan Pastor,  di manakah keselamatan yang dijanjikan Tuhan itu?"  Kembali diam.  Saya tak sanggup menjawab pertanyaan itu. Air mata mengalir dan isak segan terbahak?  Perlahan-lahan saya mengangkat mata  dan melihat sebuah salib kayu pada dinding  kapel.  Saya melihat dan memahi solidaritas Dia yang tersalib itu.  Tetapi saya tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.   ADINA  membutuhkan solidaritasku bukan kata-kataku.  Bertahu-tahun saya bergulat dengan pertanyaan ini.  Tahun 1999,  ketika Timor -Timur memutuskan merdeka melalui Referendum, Tentara Indonesia menarik diri sambil menghancurkan kota-kota di Timor Leste.  Saya coba mengontak ADINA dan aktivis HAM Timor Leste.   Tapi tidak bisa lagi.  Kemudian datang kabar terakhir dari teman-teman  di Jakarta. Mereka  bilang,  waktu itu ADINA sudah menikah dan hamil 7 bulan.  Saat terjadi pembantaian di Liquica,  kemungkinan besar, ADINA mati dalam peristiwa berdarah itu.   Sungguh tragis.  Hanya pertanyaannya masih terus menggugat.  "Coba, katakan Pastor,  di manakah keselamatan yang dijanjikan Tuhan itu?" 
Tahun 2004 di Roma, padsa suatu pagi, saya mendapat telepon jam 02.00 dini hari.  Dalam keadaan ngantuk saya dengar. "Selamat pagi Pastor, ini dari ADINA.  " katanya. "ADINA siapa?" tanyaku. "Pastor, ini ADINA dari Timor Leste," katanya.  "ADINA, engkau masih hidup?. Kami pikir engkau sudah mati dalam pembantian di Liquica. ?" tanyaku.  Tidak pastor. Saya luput secara ajaib dalam peristiwa pembantaian itu. dan beberapa lamanya saya  hidup dalam persembunyian.  Sekarang saya berdiri di sini dengan Eduardo suami saya.  Kami mengucapkan terima kasih kepada Pastor untuk  perjumpaan kita tahun 1997, khussusnya sharing di Kapel itu. Pertemuan itu memberikan saya semngat hidup baru.  Kalau tidak, mungkin saya sudah mati  gantung diri," tutur ADINA. Sesudah pembicaraan itu,   saya tidak bisa tidur lagi.  Saya duduk , berdoa dan merasa bahagia sekali.   Seperti merayakan Natal dan Paska sekaligus.    Ternyata Tuhan sendiri menjawab pertanyaan ADINA dan menebus hidupnya dari kebinasaan.   Saya ingat kembali  Kapel kecil, tempat  kami berkumpul.   Saya ingat lilin adven, saya ingat Firman Tuhan yang kami baca, sharing kecil dan pertanyaan ADINA, Salib kayu pada dinding kapel,  jariku yang tidak sanggup menunjuk pada Penebus yang tersalib.  Tetapi akhirnya Tuhan sendiri memberi jawaban. "Tuhan menyembuhkkan orang yang patah hati,  dan membalut luka-lukanya," kata Pemazmur.   Maka, "Pujilah  Tuhan, hai jiwaku,  Ia yang menebus hidupku dari kebinasaan.  Amin. Sekian dan terima kasih. 


  JPS, 27 Desember 2022.

Comments

Popular posts from this blog

ST. AGUSTINUS

PATER MARKUS SOLO KEWUTA, SVD

PARA FILSOF