PERDEBATAN FILSAFAT
PERDEBATAN FILSAFAT
TENTANG GARIS DEMARKASI ANTARA SAINS DAN FILSAFAT DAN KEMATIAN METAFISIKA
Oleh Fitzerald Kennedy Sitorus
Beberapa hari belakangan ini, kita membaca di halaman facebook lalu lintas pertukaran pikiran yang bersemangat mengenai sains. Picu yang melatuk diskusi ini adalah pernyataan Mas Gunawan Muhammad (GM) mengenai permasalahan-permasalahan sains dalam sebuah seminar online yang berjudul “Berkhidmat kepada Sains”. Pertanyaan ini kemudian ditanggapi oleh AS Laksana. Kemudian sejumlah tulisan tanggapan lainnya bermunculan meramaikan pertukaran pikiran tersebut.
Sebelum seminar tersebut, perbedaan pendapat tentang hubungan antara sains dan filsafat atau metafisika serta agama juga sebenarnya telah terjadi dalam sebuah diskusi online pada 16 Mei 2020 lalu. Perbedaan pendapat tersebut melibatkan Nirwan Arsuka dan Hamid Basyaib di satu sisi dan Mas GM, Romo Lili dan saya sendiri di sisi lain. Secara singkat, Nirwan dan Hamid berada pada posisi yang mengagungkan sains dan menganggap filsafat dan agama tidak relevan lagi, sementara Mas GM, Romo Lili dan saya berpendapat bahwa sekalipun sains memang menghasilkan kemajuan yang luar biasa dan berjasa besar bagi umat manusia bukan berarti filsafat dan agama menjadi tidak relevan.
Hal menarik dari pernyataan-pernyataan dan tulisan-tulisan yang muncul dalam pertukaran pikiran ini adalah munculnya klaim yang mengagungkan sains sedemikian rupa dan menganggapnya sebagai satu-satunya cara untuk memperoleh deskripsi yang paling baik mengenai realitas. Klaim ini kemudian diikuti dengan pernyataan bahwa bidang-bidang lainnya, seperti filsafat atau metafisika dan teologi, menjadi tidak relevan karena tidak mampu menghasilkan pengetahuan yang ketepatan dan kepastiannya sama dengan sains. Klaim irrelevansi filsafat atau metafisika dan agama ini sama dengan frase populer yang mengatakan bahwa sekarang filsafat atau metafisika, dan juga agama, telah mati. Dengan keunggulan metodenya dan dengan cerita kesuksesannya kita dapat mengandalkan diri semata-mata pada sains. Bahkan sudah pantas pula kalau sains menyombongkan diri, demikian tulisan Nirwan Arsuka di Facebook.
Tapi, di sisi lain, ada juga tulisan yang melihat sains dengan lebih realistis. Posisi ini mengatakan bahwa sains memang menghasilkan banyak kemajuan dan memberikan sumbangan yang sangat besar bagi umat manusia, namun ini tidak berarti bahwa sains tidak mengandung kelemahan atau keterbatasan. Sains bukanlah segala-galanya. Sains hanyalah salah satu cara dalam menyingkapkan realitas. Dan oleh karena itu, kita masih tetap membutuhkan filsafat, metafisika, agama, dan lain-lain.
Di tengah-tengah keriuhan pembicaraan yang diwarnai dengan klaim-klaim tersebut saya melihat ada hal yang masih luput dari perhatian, dan itu membuat pertukaran pikiran ini belum begitu produktif. Yang luput itu adalah belum jelasnya batas-batas antara sains, filsafat/metafisika dan agama.
Seandainya batas-batas ini jelas, maka menurut saya kita tidak lagi menganggap sains sedemikian hebat atau agung, sedemikian agungnya, sehingga ia dianggap pantas membuat metafisika dan agama menjadi tidak relevan. Seandainya batas-batas ini jelas, maka kita akan sadar bahwa, dengan segala keberhasilan dan kesuksesannya yang memang tidak dapat disangkal, sains tetaplah sains, ia tidak mungkin melampaui hakikatnya sekalipun ia sedemikian gemilang; dan sejalan dengan itu filsafat tetaplah filsafat, dan agama tetaplah agama. Masing-masing memiliki wilayah, metode, epistemologi dan tugasnya sendiri-sendiri.
Tulisan ini berusaha memperlihatkan garis demarkasi antara sains, filsafat atau metafisika. Upaya itu saya lakukan dengan memperlihatkan karakter-karakter keduanya. Di sini yang saya maksud dengan sains adalah semua jenis ilmu pengetahuan, dan secara lebih khusus ilmu pengetahuan alam. Saya juga tidak membedakan secara ketat antara filsafat dan metafisika, sekalipun di dalam diskursus filsafat, kedua disiplin itu harus dibedakan.
Obyek material dan obyek formal
Untuk memperlihatkan demarkasi tersebut, saya akan mulai dengan apa yang dalam filsafat ilmu disebut obyek formal dan obyek material ilmu. Apakah yang membedakan sebuah ilmu dari ilmu lainnya? Apa yang membedakan ilmu kedokteran dari ilmu psikologi dan dari ilmu anatomi? Ketiga ilmu ini sama-sama meneliti tubuh manusia. Tapi mengapa mereka berbeda sebagai ilmu? Apa yang membedakan ilmu ekonomi dan ilmu politik? Keduanya sama-sama meneliti masyarakat, tapi mengapa mereka berbeda?
Setiap ilmu memiliki obyek material dan obyek formal. Obyek material adalah obyek yang diteliti oleh ilmu tersebut, sementara obyek formal adalah sudut pandang atau perspektif yang digunakan oleh ilmu itu dalam meneliti obyek materialnya. Obyek material ilmu-ilmu itu bisa sama, tapi obyek formalnya pasti berbeda. Ilmu kedokteran, ilmu psikologi, dan ilmu anatomi memiliki obyek material yang sama, yakni tubuh manusia, namun mereka memiliki obyek formal yang berbeda dalam meneliti tubuh manusia. Ilmu kedokteran meneliti sistem-sistem mekanis dalam tubuh manusia, ilmu psikologi meneliti kejiwaan, ilmu anatonomi meneliti struktur tubuh manusia.
Masyarakat juga merupakan obyek material bagi banyak ilmu. Ilmu politik melihat masyarakat dari perspektif penataan kehidupan bersama, ilmu ekonomi melihatnya dari perspektif cara-cara masyarakat memenuhi kebutuhan hidup mereka, ilmu kriminologi melihat fenomena kejahatan dalam masyarakat, dan lain-lain. Jadi, obyek formal itulah yang membedakan sebuah ilmu dari ilmu lainnya.
Metode yang digunakan oleh setiap ilmu kemudian tergantung dari obyek formal ini. Nah, sekarang apakah obyek material dan obyek formal sains dan filsafat?
Sains
Obyek material sains atau ilmu alam adalah dunia pengalaman empiris, sementara obyek formalnya adalah keterukuran obyek-obyek empiris tersebut. Sains meneliti alam dengan tujuan agar fenomena-fenomena alam itu dapat dikontrol, dijelaskan, dikendalikan atau diprediksi. Dan untuk itu, sains berusaha mencari hukum-hukum yang dapat menjelaskan fenomena-fenomena alam yang diteliti. Upaya mencari hukum tersebut dilakukan melalui metode eksperimen, observasi, percobaan, perumusan teori dan pengujian kembali teori tersebut ke dunia pengalaman empiris itu sendiri.
Berdasarkan karakter di atas, kita dapat menentukan beberapa ciri yang terdapat dalam semua ilmu, yang membedakannya dari filsafat.
Pertama, sains itu bersifat empiris, artinya, obyeknya adalah bagian tertentu dari dunia pengalaman empiris (empirische Erfahrungswelt). Empiris artinya berada di dalam ruang dan waktu. Kata „bagian tertentu“ ini perlu digaris bawahi. Bagian tertentu berarti bahwa yang diteliti hanyalah salah satu aspek dari dunia pengalaman empiris itu. Misalnya, mengenai virus, mengenai gravitasi, mengenai gempa bumi, planet-planet, dan lain-lain. Bahkan penelitian mengenai planet pun harus terfokus pada aspek tertentu dari planet tersebut, misalnya strukturnya, dan bukan keseluruhan hal ikhwal mengenai planet tersebut. Ilmu pengetahuan tidak mampu meneliti keseluruhan totalitas dunia pengalaman empiris yang sedemikian luas.
Keterbatasan sains ini diakui oleh para raksasa sains itu sendiri. Teori Relativitas Khusus Einstein (1905) memperlihatkan bahwa tidak ada konsep mengenai keseluruhan (das Ganze) yang dapat dioperasionalkan karena tidak ada sistem referensi yang serba mencakup dan sempurna; yang ada hanya relasi-relasi dalam sebuah sistem yang otonom.
Prinsip Ketidakpastian Heisenberg (1927) bahkan mengatakan bahwa kita tidak mungkin memperoleh pengetahuan yang lengkap mengenai sebuah sistem, sebab keterfokusan pada dimensi yang satu telah menyebabkan pengetahuan pada dimensi yang lain menjadi tidak mungkin.
Teorema Ketidaksempurnaan Gödel (1931) juga mengatakan hal yang kurang lebih sama, yakni bahwa isi kebenaran sistem-sistem formal tidak pernah dapat seluruhnya ditangkap. Teorema Gödel ini telah memvonis ketidakmungkinan mencapai sebuah sains universal yang dapat menjelaskan seluruh semesta dengan model matematika (mathesis universalis). „Ilmu pengetahuan tidak mungkin dapat memahami sebuah totalitas; semua pengetahuan selalu limitatif, terbatas“ (Philosophie und Wissenschaft, Hg. Willi Oelmüller, 1988, hal. 120 dst).
Kedua, sains itu secara tematis reduktif. Artinya obyek itu dilihat atau diteliti dari sudut pandang tertentu (objek formal) yang terbatas, sedangkan sudut pandang lainnya diabaikan. Sosiologi misalnya melihat manusia dari sudut pandang keberadaannya dengan dengan manusia lain, dan mengabaikan aspek-aspek psikologis, mental atau ekonomis dari manusia-manusia tersebut. Sama hanya, sekalipun dewasa ini penelitian mengenai neuron-neuron di dalam otak sudah sedemikian maju, hal itu tidak dapat menjelaskan keseluruhan fenomena kesadaran (consciousness); fenomena mental tidak dapat diindentikkan sepenuhnya dengan realitas fisikal-natural.
Ketiga, sains itu secara metodis abstrak. Artinya, sains hanya meneliti obyek sejauh itu diizinkan oleh metode yang digunakannya; metode itu mengabaikan (mengabstrasikan) bidang-bidang lain yang berada di luar cakupannya. Ini karena sebelum sains meneliti obyeknya, ia harus lebih dulu menentukan metode penelitiannya. Bila kita misalnya meneliti kejiwaan manusia dengan metode psikoanalisis, maka kita memberikan perhatian pada dimensi-dimensi bawah sadar yang terdapat dalam diri orang tersebut, dan tidak memperhatikan aspek-aspek lain dari kejiwaannya. Atau bila kita menganalisis masyarakat dengan metode Marxis, maka kita memusatkan perhatian pada faktor-faktor ekonomis atau pertentangan/perbedaan kelas dalam masyarakat itu, dan mengabaikan faktor-faktor lainnya.
Ungkapan „secara metodis abstrak“ dan „secara tematis reduktif“ di atas dapat diperjelas dengan contoh ilmu alam itu sendiri. Ilmu-ilmu alam dapat mencapai kemajuan luar biasa pada zaman modern berkat penerapan metode baru, yakni matematisasi fenomena alam. Artinya, fenomena alam ditangani secara matematis. Dengan metode ini, para saintis berusaha mengkonversi dimensi-dimensi kualitatif menjadi kuantitatif, sehingga dapat diukur. Misalnya, panas adalah sebuah dimensi kualitatif. Dalam ilmu alam modern, panas diukur secara kuantitatif melalui termometer dan kemudian dapat diungkapkan dalam bentuk angka-angka. Panas, yang tadinya kualitatif, menjadi kuantitatif.
Ini sesuai dengan prinsip G. Galileo (1564-1642) yang mengatakan: „semua yang dapat diukur, diukur secara kuantitatif, dan apa yang belum dapat diukur, diusahakan untuk dapat diukur“.
Metode matematisasi obyek material ini membawa jenis observasi dan pengujian eksperimental yang baru: ilmu pengetahuan modern hanya mengenal alam dari sudut ke-dapat-diukur-annya (die Meßbarkeit, measurability); alam dilihat dalam bentuk yang telah selalu diukur. Inilah maksudnya bahwa sains melihat alam secara abstrak dalam bentuk yang telah direduksi secara metodis ke dalam sebuah model matematika. Alam dilihat dalam bentuk angka-angka.
Tapi, jangan lupa, alam itu sendiri bukan model matematika, bukan model angka-angka. Alam itu sangat kompleks. Tapi justru dengan itulah ilmu pengetahuan modern dapat berkembang dengan luar biasa, menghasilkan banyak temuan baru, yakni ketika ia melihat alam secara abstrak dalam model matematika (Anno Anzenbacher, Einführung in die Philosophie, 1981, hal 22-26).
Jadi, keterbatasan ilmu itu bukanlah sebuah kelemahan; justru itu adalah adalah kekuatannya. Dan justru karena sains terbatas dalam mendeskripsikan realitas maka kita juga harus menerima kompetensi bidang-bidang (ilmu pengetahuan) lainnya dalam melakukan hal yang sama.
Sejarah kemudian memperlihatkan bahwa cerita sukses ilmu-ilmu alam ini juga mempengaruhi bidang ilmu lainnya. Metode kuantitatif ilmu alam kemudian diterapkan untuk ilmu-ilmu lainnya, termasuk ilmu sosial dan ilmu humaniora.
Keberhasilan itu juga membuat sains menjadi sedemikian percaya diri, seakan-akan ia berhak untuk berjalan sendiri, dengan logikanya sendiri, dengan mengabaikan konteks sosial di mana ia berdiri. Sains menjadi tercerabut dari dunia kehidupan (Lebenswelt). Ini kemudian menjadi latar belakang munculnya kritik terhadap sains, antara lain dari seorang ahli matematika dan filsuf, yakni Edmund Husserl. Ini juga disinggung oleh Mas GM dalam tulisannya.
Kritik Husserl terhadap sains
Anehnya, krisis sains itu bersumber justru dari hal yang memberikan dia keunggulan. Sains berkembang karena bantuan matematika, terutama geometri.
Di atas kita sudah melihat bagaimana Galileo menekankan bahwa segala sesuatu harus dapat diukur. Galileo meyakini bahwa satu-satunya jenis kepastian yang bisa diandalkan dan dipercaya sepenuhnya hanyalah matematika. Karena itu, ia memisahkan secara definitif antara ilmu fisika dan filsafat; dan sejalan dengan pemisahan itu, ia juga memisahkan secara tegas antara kualitas-kualitas obyektif-primer dan kualitas subyektif-sekunder. Yang penting hanyalah kuantitas primier seperti ukuran, bentuk, bilangan dan kecepatan, sementara kualitas sekunder seperti warna, suara, bau tidak relevan.
Galileo juga menolak otoritas apapun sebagai kriteria kebenaran, selain observasi, eksperimen dan rasio matematis. Galileo yakin bahwa kompleksitas alam nyata yang berubah-ubah dan kontradiktif bisa dipahami berdasarkan hukum fisika-matematik yang sederhana. Tanpa matematika, orang akan terlunta-lunta dalam labirin gelap, katanya.
Menurut Galileo, geometri memungkinkan manusia mengatasi relativitas interpretasi subyektif yang sangat mendasar dalam dunia empiris. Dengan geometri kita memperoleh kebenaran yang identik, mutlak dan dapat diterima oleh setiap orang yang mengerti dan dapat menggunakan metode tersebut. Sejalan dengan konsep Plato mengenai adanya dunia ideal, Galileo mengatakan bahwa matematika akan membebaskan pikiran dari sensasi, dan mengakrabkannya dengan dunia pikiran murni serta membawa jiwa ke dalam ketinggian dunia idea. Geometri adalah pengetahuan mengenai hal-hal yang abadi. Dan kebenaran geometri itu sah secara absolut untuk semua manusia, untuk semua zaman, semua orang, dan bukan hanya menyangkut hal-hal faktual historis, tapi juga bagi segala sesuatu yang bisa dipahami. (lihat “Asal-Usul Gemoteri” dalam die Krisis der europäischen Wissenschaften und die transzendentale Phänomenologie, hal. 18 dst)
Ilmu berkembang karena bantuan matematika atau lebih tepat geometri. Dengan geometri, maka sains melakukan geometrisasi dunia kehidupan, semua diukur dalam kategori-kategori matematis. Namun kolaborasi antara sains, matematika dan geometri ini kemudian menimbulkan transformasi lebih jauh lagi, yang disebut Husserl dengan aritmetisasi geometri. Dengan kolaborasi tersebut, segala proses kerja geometri tidak lagi dilakukan secara geometris (melalui konsep-konsep spasio-temporal), melainkan secara aritmetis, yakni dengan simbol-simbol matematis. Bila sebelumnya terjadi proses geometrisasi dunia kehidupan, kini meningkat menjadi aritmetisasi geometri, bahkan aritmetisasi dunia kehidupan.
Bila dalam geometri, misalnya, bumi digambarkan sebagai benda bulat (dan kebulatan bumi di sini tentu sangat ideal, sesuai dengan ide tentang kebulatan bumi), dengan aritmetisasi geometri, bumi cukup digambarkan dalam angka-angka. Tinggi sebuah gunung tak perlu lagi digambarkan, cukup dikatakan dalam angka. Benda panas tidak lagi dilihat sebagai benda panas, melainkan cukup dalam skala sekian derajat, suara diukur dengan satuan tertentu. Ini tak lain dari aritmatisasi dunia kehidupan. Singkatnya semua kualitas subyektif atau mental dimatematisasi dan direduksi ke dalam simbol-simbol numerik. Formalisasi universal inilah yang mengakibatkan sains terasing dari dunia dan yang kelak mengakibatkan hilangnya makna kehidupan (Sinnentleerung). Sains mereduksi dunia kehidupan ke dalam angka-angka, dan tercerabut dari dunia kehidupan. Inilah krisis yang dimaksud oleh Husserl. (Die Krisis, hal. 45)
Di sini saya tidak berbicara mengenai kritik filsuf Martin Heidegger terhadap sains dan ilmu pengetahuan. Cukuplah dikatakan bahwa sekarang ini tak ada lagi bagian dunia kehidupan sekarang yang tidak dipengaruhi atau ditentukan oleh sains dan teknologi. Dulu teknisisasi dunia kehidupan itu berlangsung melalui sains (Technisierung durch Wissen), tapi sekarang yang terjadi adalah teknisisasi sains itu sendiri (Technisierung des Wissen selber). Artinya, sains berkembang sedemikian rupa untuk melayani kepentingan teknologi; sains menjadi pelayan teknologi, dan bukan lagi melayani manusia. (Philosophie und Wissenschaft, hal. 65).
Filsafat
Bagaimana dengan filsafat? Berbeda dari sains, filsafat tidak bersifat empiris, tidak reduktif secara tematis dan juga tidak abstrak secara metodologis. Filsafat memang bertolak dari pengalaman empiris, tapi ia justru menantang dan melampaui pengalaman empiris. Filsafat juga bertolak dari akal sehat tapi ia bergerak melampau akal sehat. Pengetahuan akal sehat adalah pengetahuan yang kebenarannya kita terima begitu saja, tanpa dibuktikan dan tanpa dipertanyakan, berdasarkan kebiasaan atau pengalaman sehari-hari. Filsafat menyadari bahwa pengetahuan akal sehat itu sering tidak sehat.
Obyek material filsafat adalah keseluruhan kenyataan, bukan hanya bagian tertentu dari kenyataan, sebagaimana sains. Filsafat mempertanyakan dan menjadikan apa saja sebagai bahan refleksinya. Heidegger berfilsafat tentang alat-alat. Hegel dan Kant berfilsafat tentang Tuhan (Filsafat Ketuhanan). Semua hal dapat menjadi obyek refleksi filsafat. Bahkan ketiadaan (nothingness) itu sendiri. Leibniz, Heidegger dan Hegel misalnya merefleksikan ketiadaan dengan mendalam. Di Kyoto, Jepang, bahkan ada Kyoto School of Nothingness. Mereka meneliti segala hal mengenai ketiadaan, termasuk struktur ketiadaan itu sendiri. Dan ini kemudian menimbulkan pertanyaan khas filsafat: kalau ketiadaan memiliki struktur, dan bahkan dapat diteliti, apakah ketiadaan itu masih ketiadaan? Apa itu ketiadaan. Tapi ya itulah kekhasan filsafat, sesuai dengan obyek materialnya.
Apa obyek formal filsafat? Tidak lain dari sudut pandang yang sedalam-dalam dan seradikal-radikalnya. Filsafat merefleksikan obyek materialnya secara sangat mendalam dan radikal. Jadi, kalau sains bertolak dan berhenti pada pengalaman empiris, filsafat bertolak dari pengalaman empiris dan melampaui pengalaman empiris itu. Filsafat tidak puas hanya di permukaan, ia ingin mencapai struktur terdasar dari sesuatu (ontologi).
Filsafat juga tidak reduktif dari segi tema. Sebelumnya telah dikatakan bahwa filsafat selalu berusaha memahami segala sesuatu secara mendalam dan total. Oleh karena itu, filsafat selalu mencari jawaban hingga ke wilayah non-empiris. Tidak seperti sains yang mau tidak mau terbatas pada pengalaman empiris, filsafat itu tidak pernah puas hanya dengan mengetahui aspek tertentu saja, melainkan harus keseluruhan dari aspek yang diteliti itu, termasuk syarat-syarat kemungkinannya. Itu yang membuat filsafat menjadi ilmu yang mendalam dan menyeluruh. Karena itu, filsuf Jerman Karl Jasper pernah berkata secara agak paradoksal bahwa filsafat memiliki die Spezialität des Allgemeinen, artinya, bahwa spesialisasi filsafat adalah yang umum.
Filsafat juga tidak abstrak secara metodologis. Kalau sains hanya meneliti apa yang dimungkinkan oleh metode yang digunakannya, tidak demikian halnya dengan filsafat. Bagi sains, metode itu seperti alat yang digunakan untuk menganalisis obyek yang ditelitinya; alat itu membatasi apa yang diteliti dan bagaimana penelitian itu berlangsung.
Sebaliknya, filsafat tidak asbtrak karena ia tidak mengandaikan metode. Filsafat langsung merefleksikan secara rasional obyek yang ditelitinya dan kemudian menentukan metode yang digunakan untuk menganalisis obyek itu. Yang lebih berperan dalam filsafat adalah kekuatan argumentasi. Justru karena filsafat tidak dibatasi oleh metode maka ia dapat melahirkan metode-metode refleksi yang baru, misalnya fenomenologi, kritisisme (Kant) atau dialektika. Metode-metode ini kemudian sering dipinjam oleh sains. (Tentu dalam refleksi filosofis yang biasa, orang dapat mengikuti metode tertentu).
Contoh-contoh pertanyaan sains:
Berapakah gigi beruang es? Dalam kondisi bagaimana tembaga melebur? Siapakah penemu benua Australia? Seberapa cepatkah benda padat jatuh? Seberapa berbahayakah tenaga atom? Bagaimana cara meraih kekuasaan politik? Zat apakah yang dikandung oleh jamur? Apakah bahasa Indonesia termasuk rumpun bahasa Melayu? Berapakah diameter bumi? Bagaimana virus corona berkembang biak? dst
Contoh-contoh pertanyaan filsafat:
Mengapa ada Ada (Sein) dan bukan Ketiadaan (Nichts)? Apakah itu pengetahuan? Apa itu kebenaran? Apa itu manusia? Apakah kebebasan memungkinkan determinasi-diri? Apakah manusia bebas? Apa itu yang baik secara etis? Apakah sejarah mempunyai makna dan tujuan? Apa itu keindahan? Apakah manusia memiliki jiwa? Apakah Tuhan bereksistensi? Ke mana saya setelah mati? Mengapa harus saya yang kena covid-19? Apakah makna hidupku? Apa itu hidup yang baik? Apa itu adil? Bagaimana aku harus hidup? Dst
Pertanyaan-pertanyaan filsafat ini tentu tidak dapat dijawab oleh sains sebab pertanyaan itu sendiri tidak menyangkut pengalaman dunia empiris. Tapi jangan katakan bahwa pertanyaan itu tidak sah. Pertanyaan itu sah karena menyangkut makna kehidupan atau realitas ultim kehidupan itu sendiri. Sains, justru karena mereka bersifat khusus dan empiris, tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar mengenai makna eksistensial manusia itu sendiri. Dan tidak ada sains atau ilmu pengetahuan yang mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan eksistensial demikian.
Bagaimana hubungan sains dan filsafat?
Kemajuan sains tidak jarang membawa mereka pada sebuah titik di mana mereka terbentur pada masalah-masalah yang tidak dapat dijawabnya sendiri. Ada banyak contoh mengenai hal ini.
Perkembangan bioteknologi dan ilmu genetika misalnya memungkinkan manusia melakukan cloning atas manusia. Tapi apakah cloning itu dapat dibenarkan secara etis? Sampai sekarang ini masih menjadi bahan perdebatan. Dan anehnya yang terlibat dalam perdebatan itu bukanlah para ahli yang mengetahui ilmu cloning, melainkan para ahli bidang etika, filsafat manusia dll. Ilmu cloning itu sendiri tidak dapat lagi menjawab pertanyaan “apakah kloning manusia itu boleh?” karena hal itu sudah berada di luar wilayah kompetensinya. Kita juga melihat bahwa kemajuan teknik informatika telah memungkinkan manusia menghasilkan inteligensi buatan. Pikiran manusia bisa dibentuk sedemikian rupa sehingga ia misalnya menjadi sangat cerdas atau sangat berani. Tapi apakah ini dapat dibenarkan? Apakah Anda setuju kalau ilmu pengetahuan menciptakan manusia-manusia seperti robot? Ilmu pengetahuan mampu melakukan itu, tapi apakah itu boleh, dan apakah itu perlu? Pertanyaan ini tidak dapat dijawab oleh ilmu-ilmu tersebut.
Banyak sekali masalah etis yang sangat serius yang diakibatkan oleh perkembangan ilmu yang sedemikian cepat dan maju dewasa ini. Apakah cangkok jantung dengan menggunakan organ jantung hewan tertentu misalnya dapat dibenarkan secara etis manusiawi? Ilmu kedokteran mampu melakukan euthanasia, tapi apakah itu dapat dibenarkan? Pertanyaan ini tidak dapat lagi dijawab oleh ilmu kedokteran tu sendiri. Sekarang telah ada ilmu yang mampu melakukan campur tangan kepada otak manusia, sehingga dengan mentrigger bagian tertentu dari otak, kita dapat menciptakan manusia-manusia seperti yang kita inginkan, misalnya menjadi sangat pintar, sangat religius, sangat rajin, sangat jahat atau sangat destruktif. Apakah ini dapat dibenarkan? Kalaupun dapat dibenarkan, apakah itu perlu dilakukan?
Di sinilah filsafat turun tangan membantu menjawab masalah yang berada di luar kompetensi ilmu-ilmu khusus tersebut. Ilmu-ilmu pengetahuan itu tidak dapat menjawab pertanyaan: apakah kita dapat melakukan apa yang mampu kita lakukan? Sampai sejauh mana kita dapat dan perlu melakukan apa yang mampu kita lakukan itu? Apa kriterianya? Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi kompetensi ilmu filsafat. Filsafat juga memberi jawaban misalnya mengenai kesahihan etis dari metode-metode yang digunakan oleh ilmu tertentu. Filsafat juga berguna untuk memberikan penjelasan atas implikasi-implikasi yang disebabkan oleh ilmu-ilmu itu. Tentu filsafat tidak dapat sendirian. Ia juga harus bekerja sama dengan ilmu-ilmu lainnya itu.
Oleh karena itulah jamak terjadi, seorang saintis yang tidak puas terhadap pendekatan ilmunya sendiri, kemudian belajar filsafat, dan memperoleh wawasan yang lebih luas dan dapat melihat ilmunya sendiri dengan lebih kritis. Saintis macam ini kemudian sering menghasilkan gagasan inovatif dalam bidang ilmunya. Ke dalam kelompok saintis ini kita dapat memasukkan Thomas Kuhn, Paul Feyerabend, Imre Lakatos, Karl R. Popper, dan lain-lain.
Kematian metafisika?
Dari uraian di atas kita bisa menyimpulkan bahwa ternyata filsafat belum mati, dan tidak mungkin mati. Sekalipun sains sudah sedemikian maju filsafat tetap memiliki alasan untuk hidup. Sains tidak pernah dapat menggantikan tugas dan fungsi filsafat dan agama.
Hidup kita akan terlalu dangkal bila semuanya dijelaskan dengan penjelasan empiris-ilmiah. Naturalisme tidak pernah dapat memuaskan manusia. Manusia adalah mahluk yang selalu ingin tahu. Pertanyaan-pertanyaan filosofis seperti di atas akan selalu dilontarkan oleh manusia, sehebat apapun kemajuan yang telah dicapai oleh sains. Sains mungkin dapat menjelaskan asal usul alam semesta dengan teori Big Bang. Tapi siapa yang dapat menghentikan akal budi manusia untuk tidak bertanya: sebelum Big Bang ada apa? Kalau sains memberikan jawaban untuk itu, manusia juga akan bertanya: sebelum itu ada apa?
Manusia tidak akan pernah berhenti menciptakan sistem-sistem metafisika yang membantunya memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ultim menyangkut eksistensinya. Karena itu Heidegger benar ketika ia mengatakan bahwa selama manusia merupakan animal rationale, ia sekaligus merupakan animal metaphysicum (as long as man remains the animal rationale he is also the animal metaphysicum). (The Way Back into the Ground of Metaphysics, hal. 209).
Benar, Habermas berbicara mengenai postmetafisika. Namun, yang dimaksud Habermas dengan frase itu bukanlah bahwa di masa depan tidak ada lagi metafisika. Ciri metafisika menurut Habermas adalah pemikiran identitas, idealisme, paradigma filsafat kesadaran dan prioritas teori atas praktik. Itulah yang sudah berlalu menurut Habermas. Postmetafisika dalam pengertian Habermas adalah post-idealisme, post-platonisme. Dengan kata lain, era sekarang tidak lagi mengakui adanya kebenaran tunggal, seperti Ide Plato, yang mesti menjadi acuan bagi semua.
Metafisika, demikian Kant, adalah hakikat manusia (Metaphysik als Naturanlage). Mengapa? Jawaban atas pertanyaan ini diberikan Kant pada kalimat pertama bukunya, Kritik der reinen Vernunft: karena manusia selalu dibebani oleh pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat dihindari tapi yang sekaligus tidak dapat dijawab, karena pertanyaan-pertanyaan itu telah melampaui pikiran kognitifnya, dan untuk itulah manusia menciptakan sistem-sistem metafisika.
Saya pikir uraian di atas sudah cukup memperlihatkan bahwa metafisika merupakan keniscayaan eksistensial bagi manusia itu sendiri.
Kesimpulan
Sains itu terbatas. Itu sudah jelas. Tapi itu bukan kelemahan, justru keterbatasan itulah kekuatan sains. Dengan keterbatasan itu, sains dapat melakukan penelitian yang sedemikian mendalam pada obyek tertentu sehingga dengan demikian kita memperoleh pengetahuan yang mendalam mengenai obyek tersebut. Goethe pernah mengatakan, „barang siapa ingin menjadi besar, ia harus mampu membatasi dirinya“. Pembatasan diri ini bukan hanya terjadi pada sains. Pada filsafat juga itu terjadi. Sekarang orang tidak lagi berbicara mengenai filsafat sosial, misalnya, karena wilayah itu terlalu luas. Filsafat sosial kemudian dibagi ke dalam wilayah lebih spesisik, misalnya filsafat politik, filsafat ekonomi, dll.
Karena itu, menurut saya, sikap yang mengagungkan bidang sendiri tidak akan membawa kita ke mana-mana. Uraian saya di atas juga bukanlah sebuah pengagungan filsafat. Itu adalah sebuah upaya untuk memperlihatkan garis demarkasi dan tugas serta fungsi kedua disiplin ilmu tersebut. Sainstisme, sebagaimana diusahakan oleh para filsuf neopositivis Lingkaran Wina, adalah buah dari kebanggaan berlebihan terhadap sains. Saintisme sama dengan naturalisme, menganggap manusia semata-mata sama dengan realitas fisik, seperti batu atau pohon. Karena itu, saintisme adalah fundamentalisme sains. Saintisme adalah dehumanisasi. Saintisme adalah kedunguan.
Saya yakin, sebagaimana ilmu alam maju karena berkolaborasi dengan matematika, kita juga akan maju melalui kerja sama antar-ilmu. Inilah menurut saya salah satu kunci kemajuan ilmu pengetahuan di negara-negara Eropa. Saintis, filsuf, dan teolog duduk bersama membicarakan tema Tuhan dan Big Bang. Para teolog dan saintis berdiskusi mengenai bagaimana Tuhan bertindak di dunia ini. Rekaman atau teks mengenai diskusi-diskusi seperti ini dapat dengan mudah kita temukan di Youtube atau media-media sosial. Di Jerman, misalnya, filsuf Otfried Höffe termasuk dalam anggota komisi ahli yang dibentuk oleh pemerintahan negara bagian NRW untuk membantu pemerintah menangani dampak covid-19. ***
Colek Goenawan Mohamad Andy Budiman
____________________________________
Kutipan dari Romo Mudji Sutrisno di diskusi Webinar Aliansi Kebangsaan
Tulisan ini berasal dari WAG, sy tdk menambahkan apapun dari tulisan ini, namun hanya karena isi tulisan bermanfaat bt sy maka sy posting laman FB agar sy bs membaca lagi.
——————————-
Di sadur dr pemikiran2 Filsafat Jean Baudrillard
(Seorang Filsuf Kontemporer, komentator politik & sosiolog, jg berprofesi sbg fotografer top Perancis)
NEW NORMAL adalah MATINYA HIPEREALITA
Pertama2 saya akan bilang New Normal ini sebenarnya adalah back to normal.
Justru kehidupan kemarin itu yg abnormal
Kedua, saya akan cerita apa itu hiperealita ?
Sederhananya ketika anda beli segelas kopi starbuck seharga 40an ribu. Mengapa segelas kopi bisa begitu mahal ? Anggaplah harga dasar kopi itu 7 ribu, maka 33 ribu sisanya anda membayar harga sewa sofa outlet & membeli simbol starbuck.
Angka 33 ribu itulah hiperealita.
Sebuah kondisi mental yg menganggap sesuatu itu nyata & kita butuhkan melebihi kebutuhan dasar kita sendiri.
( fyi istilah hiperalita diperkenalkan oleh filsuf prancis bernama Jean Baudrillard dalam bukunya tentang Simulacra)
Kita sesungguhnya tidak akan menemui hiperealita sedahsyat kemarin andai saja tidak ditemukan yg namanya facebook, instagram, twitter, dan teman2nya.
Tiba2 datanglah covid19. Mendadak kita semua takut keluar rumah, takut berkerumun, aktivitas di luar dibatasi. Apa2 semua serba dilakukan dari rumah.
Lalu bagaimana nasib para hiperealista? (sebutan saya untuk pelaku hiperealita)
Starbuck sepi, kafe sepi, mall sepi. Tidak ada orang yg meng-uplod imej2 mereka di outlet2 pendongkrak citra diri itu.
Masihkah relevan kebutuhan akan luxury, prestise dan status hari ini ? Masih mungkinkah kita membutuhkan itu ? Atau kita langsung ke puncak pertanyaannya : Masihkah dibutuhkan hal2 seperti itu hari ini ?
Pandemi covid19 ini ibarat tombol reset.
Sekali ditekan langsung semua berbondong2 menuju ke titik awal.
Kita sudah merasakan PSBB, di mana pada masa itu kita diarahkan untuk melakukan segala hal yg kita butuhkan saja.
Ini kabar buruk untuk usaha seperti pariwisata, hotel, mall, kafe2 & semua usaha yg menjadikan CITRA, LUXURY atau PRESTISE sebagai core bisnisnya.
Pembatasan sosial itu adalah hantu bagi usaha2 tadi. Di mana letak kesalahannya kalau begitu ?
Benarkah kehidupan sosial benar2 telah dibatasi ?
Sebetulnya tidak salah. Karena yg terjadi sesungguhnya bukanlah pembatasan sosial tetapi mengembalikan kehidupan sosial kita ke titik yg wajar ketika kehidupan sosial kita sudah benar2 OVERDOSIS (40k for a glass of coffee ?? )
Kesalahannya adalah Starbuck dkk, membasiskan bisnisnya kepada materi yg imajiner ( citra, luxury, prestise, status sosial ).
Kalau anda mengira Starbuck dkk itu menjual minuman/makanan, jawabannya TIDAK, karena sebetulnya bisnis mereka adalah menjual & membeli simbol2.
Simbol akan berubah menjadi status manakala kehidupan sosial manusia didorong sampai puncak di luar kebutuhan wajar manusia, dan ketika ruang manusia untuk saling bertemu hancur lebur seperti hari ini saat itulah simbol2 itu runtuh nilai jualnya.
Apakah ini pertanda buruk ? Yap ini pertanda buruk, yg menunjukan betapa lugunya kita kemarin selama ini rutin bekerja 8 jam sehari, 5 hari seminggu hanya u/mengongkosi kebutuhan imajiner (hiperealita) kita.
Kemarin kita benar2 dijauhkan dari apa yg benar2 kita butuhkan.
Kita malah membiayai ilusi.
New Normal, adalah hancurnya sebuah abnormalitas & kembalinya sebuah kehidupan normal.
Sebelum revolusi industri, kehidupan itu relatif sangat normal. Manusia setara bekerja u/kebutuhannya.
Ketika ngopi mereka, ya ngopi u/ menghilangkan penat.
Kedai kopi pun sebagai ruang publik u/saling guyub berinteraksi, bukan ruang halusinasi atau untuk menyendiri.
Selesai ngopi kembali ke kehidupannya. (bukannya pindah kasta)
Upah yg mereka dapat pun untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Bukan untuk membeli merek.
Ketika kondisi di atas dihantam o/kejadian luar biasa dalam hal ini seperti pandemi, kemungkinan tidak akan se-dramatis seperti yg terjadi hari ini.
Hari ini ribuan pekerja menggantungkan hidupnya pada bisnis imajiner seperti mall, Starbuck dkk.
Bisa terbayang efek domino dr kehancurannya... rubuh satu sirna banyak. Ribuan pekerja terancam kehidupannya seiring hilangnya pekerjaan mereka. Mereka teralienasi dari pekerjaannya sehingga merasa bukan siapa2 & tidak berdaya ketika hilang profesinya.
Sudah waktunya dunia2 usaha imajiner itu merombak plan bisnisnya ke usaha2 yang lebih nyata (riil) & beradaptasi bila ingin survive hari ini.
Alih2 mempertahankan bisnis yg sama seolah2 kita masih hidup di dunia kemarin. ( ini namanya gagal move on )
New Normal adalah sebuah terapi psikis dan efek kejut bagi kita untuk memikirkan ulang, untuk introspeksi betapa rapuhnya kehidupan sosial kita kemarin, bak jaring laba2 besar. Tertata, tersistem & terstruktur rapih serta massif tetapi tidak kita sadari begitu rapuh & labil ketika sebuah batu menimpanya.
New Normal mendorong kita untuk fokus dan mengefisiensikan tenaga dan pikiran kita untuk hal2 yg kita butuhkan saja. Dan petunjuk atas matinya kebutuhan2 halusinasi kita. Seolah2 hidup kita serba dicukupkan. Kita didorong memikirkan kembali apa yg benar2 kita butuhkan. Kembali ke jati diri dan fungsi diri kita yg nyata.
It's all done. We' are shifting. Change or we die. Get real.
Dunia kita yg kemarin sudah mati
Dunia hari ini ibarat sebuah rumah sakit yg besar. Kita tergeletak di dalamnya & hanya berpikir untuk tetap sehat dan tetap hidup. Pernahkah kita melihat orang selfie saat tergeletak sekarat di rumah sakit ?
Itulah matinya hiperealita
Jika Baudrillard di tahun 80an lalu sudah memikirkan kondisi hiperealita, sesungguhnya saat itu dia sudah melihat bahaya dan sedang menyalakan simbol SOS ( save our soul ) itu kepada kita agar kita lekas sadar dan menyelamatkan diri bahwa kita berdiri di atas bom waktu yg siap meledak dan menghancurkan kita.
New Normal ? Welcome normal life, keep alive
____________________________________________
Saintisme dan Momok-momok Lain:
Interupsi untuk Goenawan Mohammad dan A.S. Laksana
F. Budi Hardiman
Goenawan Mohamad (selanjutnya GM) dan A.S. Laksana (selanjutnya ASL) berdebat di Facebook. Dibanding perdebatan politis di TV yang kerap tidak lebih dari hembus angin, perdebatan tertulis mereka punya mutu yang merangsang nalar. Belum banyak yang mereka gali. Mereka berselisih sikap atas sains. Tapi sayang sekali, mereka bertarung tanpa membedakan kancah mereka. Kedua penulis berdebat dalam area-area yang berbeda dalam diskusi sains. ASL sibuk dengan aksiologi, tentang bagaimana sains berdampak secara historis pada masyarakat. Sementara itu, untuk klarifikasi sikapnya GM malah melantur ke epistemologi, tentang bagaimana sains meraih hasilnya (Husserl dan Popper), atau bahkan ontologi (Heidegger), tentang realitas yang didekati sains. Kancah itu tumpang tindih. Tapi mereka terlanjur saling senggol.
Jika ini arena tinju, yang mereka tampilkan belum pertandingan yang ditunggu. Mereka baru ada di “babak adu mulut” untuk menunjukkan siapa mereka. ASL tampil antusias pada sains, sementara GM bersikap hati-hati dengan antusiasme itu. ASL bilang GM memuja atau - istilah dia - “berkhitmad pada” Hegel, tapi GM membantah dengan menyatakan dirinya anti-Hegelian.
Kalaupun melangkah lebih jauh dari adu mulut, keduanya paling-paling baru berjalan berkeliling ring tinju sambil memamerkan kehebatan mereka mengingat nama dan peristiwa. ASL mengacungkan tinjunya dengan tesis kemajuan yang dibawa sains. Di seberangnya, GM memanggil nama-nama besar yang menurutnya kurang familiar bagi ASL, seperti Husserl, Heidegger dan tentu saja Popper. Penonton sudah tidak sabar melihat bogem mendarat ke muka.
Debat memang belum menukik. Meski begitu, debat tulisan mereka sangat menjanjikan untuk berkembang menjadi silang gagasan bermutu yang mendidik publik kita agar tidak hanya haus sensasi, tapi juga lapar nalar. Untuk itu saya minta izin untuk masuk ke dalam kancah mereka. Bukan untuk memenangkan, melainkan untuk sekadar memanaskan. “Panasnya pertarungan,”kata Bob Marley,”adalah semanis kemenangan”.
*
ASL dan GM jelas berbeda sikap. Namun mereka sebenarnya berada dalam perahu sama yang berbendera kritisisme. Mereka alergis terhadap dogmatisme jenis manapun. Seperti para antusias Pencerahan Eropa – semoga saya salah - ASL kelihatannya lega, kalau sains akhirnya bisa mendepak agama, karena dogmatisme bercokol di sana. Tapi di seberang sana, seperti kritikus Pencerahan GM melihat ASL bergerak baru setengah jalan. Itulah yang membuatnya gundah. Bukankah kepongahan yang muncul dari kemajuan sains bisa bergulir menjadi dogmatisme baru? Pisau kritis jangan diarahkan hanya kepada agama, tetapi juga kepada sains. Dalam hal ini GM sepakat dengan Popper, Heidegger dan – jika mau lebih afdol semestinya juga – dengan Kuhn dan mungkin juga Feyerabend. Sains tetap hipotetis dan falsifiable. Bukanlah keyakinan yang diberikannya kepada sains, melainkan kewaspadaan. Ada roh pasca-Pencerahan yang hinggap di benaknya.
Ada distingsi subtil yang sayangnya tidak muncul dalam silang gagasan mereka. Padahal jika dimunculkan, kesalahpahaman bisa dihindarkan. Distingsi itu adalah antara sains dan saintisme (scientism), antara agama dan fideisme, dan antara filsafat dan ideologi. Yang di sisi kiri berkata:”Aku sedang mencari jawaban” dan tidak terlalu dini merasa menemukannya. Yang di kanan tidak tahan dengan ketidakpastian pencarian, maka sejak subuh berkata:”Akulah jawaban”.
Hal-hal yang di kanan itu jelas tidak disukai GM, bukan karena dia tidak suka jawaban. Dia tidak suka jawaban yang memasung kebebasan dan menyeragamkan yang majemuk. Logis juga kalau dia lalu juga waspada terhadap kekuasaan yang nongkrong di belakang keyakinan itu, entah itu di belakang sains, agama atau bahkan di belakang filsafat. Sikap ASL lurus saja seperti bapak positivisme, Auguste Comte yang mengira mitos diusir filsafat, dan filsafat diatasi sains. Jelas dia menyambut sains sebagai pembebas, lalu menengok ke masa silam untuk memaklumkan bahwa “iman yang gemar menghukum” akhirnya digilas sains.
Sains memang menjadi digdaya. Kalau terlalu yakin dengan jawabannya, sains berhenti bertanya dan dilantik sebagai jawaban akhir yang tidak lagi perlu dipersoalkan. Fundamentalisme sains itu disebut saintisme. Wiener Kreis dengan positivisme logisnya mewakili keyakinan itu. Bahkan para fisikawan, logikus dan matematikus yang terhimpun di situ punya proyek Einheitswissenschaft untuk menyatukan semua ilmu di bawah metode fisika dan matematika. Syukur bahwa proyek itu berantakan. Tapi entah kenapa, impian mereka tidak segera tamat di benak mereka yang antusias pada sains. Wujud historisnya adalah laboratorium-laboratorium Nazi. Di bawah sorot mata Joseph Mengele, sang malaikat maut, wanita-wanita Yahudi Polandia yang disterilisasi tanpa bius hanyalah preparat risetnya. Tidak lebih. Silau oleh cahaya dingin kebenaran sains, manusia bisa kehilangan hati nurani dan empatinya.
Bagaimana dengan agama? Mereka yang antusias dengan kemajuan sains pasti heran dengan penempatan agama sebagai pencari jawaban. Bukankah agama, khususnya doktrin-doktrinnya, sudah memberikan jawaban baku dan tidak perlu mencari kebenaran lagi? Seperti dengan sains, di sinipun kita perlu membedakannya dengan fideisme. Wahyu memang diyakini sebagai kebenaran final, tapi pemahaman manusia atasnya tidak pernah final. Jadi, agama sebetulnya juga terus bertanya tentang pemahaman yang benar atas wahyu, maka dihasilkan banyak tafsir, mazhab, sekte, dst. Mereka yang tidak tahan dengan ketidakpastian akan mengalami ‘korsleiting’ di otaknya. Fideisme lalu menjadi pegangan. Sekonyong-konyong dari sudut mata yang saleh itu sains tampak sebagai karya iblis.
Filsafat tidak terprivilegi. Dia pun bisa tergoda untuk menepuk dada dan berujar “Akulah jawaban”. Di saat itu dia berubah menjadi doktriner yang intimidatif. Rousseau di tangan Robespierre, algojo Revolusi Prancis, menjelma menjadi doktrin teror. Di bawah Stalinisme Plato juga bisa mengintimidasi seni dan sastra. Schopenhauer di tangan Musolini menjadi dogma gerakan. Namun filsafat itu sendiri tidak ingin “membangun monument”, seperti dikira ASL. Kalaupun betul, monument pikiran menunggu untuk diruntuhkan. Aliran-aliran di dalamnya mengalir, bukan pikiran beku. Filsafat hidup dari bertanya. Tentu bertanya adalah untuk mendapat jawaban. Tapi begitu jawaban diperoleh, pertanyaan diubah. Kalau tidak begitu, dia bukan filsafat, melainkan ideologi.
Pandemi Covid-19 menjadi alasan kuat untuk mewaspadai saintisme, fideisme dan ideologi. Mereka bisa saja menjadi tuntunan praktis bagi rezim biopolitis global yang mulai mengawasi tubuh dan mengobok-obok privasi warga. Berkat sains kita memang lebih siap menghadapi pandemi ini, tetapi konyol jika bersikap naif terhadap der Wille zur Macht di balik sains. Sains itu politis, seperti dicurigai Feyerabend. Politik lebih sering menikung ke labirin dunia makna daripada bertahan di dunia fakta. Tidak mengherankan jika sains juga diperumit oleh politik, seperti di saat pandemi ini.
*
Sejak tadi saya gatal untuk menggiring debat masuk lebih dalam. Entah, apakah ada yang tertarik. Ada tiga persoalan. Pertama, agama dan sains kerap dihadap-hadapkan. Itu tidak realistis. Sains tidak dapat melepaskan diri sepenuhnya dari peran agama, sekurangnya secara historis. Max Weber pernah bertanya, kenapa sains modern berkembang di Barat dan tidak di India. Karena monteisme menyumbang untuk menghadapi alam bukan sebagai hal gaib, melainkan sebagai materi yang bisa ditangani. Menolak berhala adalah awal materialisasi alam dalam monoteisme. Materialisasi alam memungkinkan sikap obyektif dalam sains. Tentu borjuasi Eropa dengan sikap berjaraknya juga andil dalam hal itu. Betul bahwa akhirnya sains otonom dari agama. Namun apakah wahyu religius tidak ikut melahirkan sains, sekurangnya secara tidak langsung? Jika ya, mestinya ibu dan anak bisa saling mengerti, dan anak tidak perlu durhaka.
Kedua, perkembangan New Sciences, seperti teori chaos, geometri faktal, mekanika kuantum dll. telah berpisah dari mechanical worldview a la Newton. Ilmu-ilmu sosial ikut dipengaruhi tentu saja. Ketidakpastian dan kontingensi makin mendapat tempat penting dalam sains. Dalam epidemologi yang mencoba mengantisipasi pola penyebaran infeksi SAR-CoV-2 juga harus betatapan dengan ketidakpastian. Tidakkah realitas yang ditangkap oleh New Sciences ini jauh lebih kompleks dan jauh lebih tidak pasti lagi, sehingga sains - juga agama dan filsafat - seperti dikatakan Rorty bukan mirror of nature, melainkan hanyalah upaya rasional untuk mengurangi kerumitan saja? Konstruksi-konstruksi rasional seperti itu tidak bisa permanen. Jadi, ya, mengapa harus “berkhidmat kepada” mereka?
Yang ketiga adalah tentang hubungan antara sains dan dunia makna. Realitas terdiri atas benda dan makna. Sains berhasil mengetahui benda. Tetapi bisakah makna didekati oleh sains (ilmu alam)? Bagaimana mungkin dari benda muncul kehidupan, dan dari kehidupan muncul kesadaran? Neurosains pun belum bisa menjelaskan mengapa otak bisa menghasilkan neorosains, jika kesadaran tidak lebih dari otak saja. Dugaan saya, untuk menjawab pertanyaan macam ini sains tidak bisa sendirian tanpa melibatkan agama dan filsafat.
Masih ada lusinan pertanyaan lain yang berkecamuk di kepala saya. Tentu bukan ‘ sang Entah’ yang diundang pertanyaan, melainkan suatu yang menghalaunya. Karena itulah kita berdiskusi.
_________________________
JPS, 11 Juni 2020
Comments
Post a Comment