Filsafat di STFK Ledalero Masih Terbelakang ?

 


Filsafat di STFK Ledalero Masih Terbelakang, Seperti di Indonesia Timur Pada Umumnya


https://www.youtube.com/watch?v=Oc0v4TChkpE

Emilianus  Yakub  Sese  Tolo, salah satu dosen STFK Ledalero, Maumere Flores  dalam suatu diskusi online yang  kemudian ditayangkan di Youtube mengklain bahwa  Filsfat di Ledalero terkebelakang. Wow....... 
STFK  Ledalero dikenal sebagi sekolah pencetak pastor yang kemudian berkarya di berbagai belahan  tempat di . Flores, NTT, Indonesia bahkan di  lima  benua di buka bumi ini.  Kalau alumninya bisa berkarya di mana-mana, koq bisa Bapak Emil mengklaim  pembelajaran Filsafat di sana dikatakan terkebelakang? 

Benarkah  klaiman di atas?
Mari kita periksa satu demi satu  berdasarkan beberapa barometer berikut.

1. Tahun berdiri dan  kurikulum.  STFK  Ledalero merupakan pengembangan lebih lanjut dari  Seminari Tinggi Ledalero, tempat pemondokan calon imman dalam Gereja Katolik. STFK Ledalero resmi diakui Negara tahun 1969. Tahun 2019  Ledalero  merayakan Pesta Emas, 50 tahun berdirinya.  Dalam usia 51 tahun menekuni kurikulum filsafat tanpa  putus-putusnya, pantaskah   dikatakan sebagai terkebelakang?

2. Nilai Akreditasi.  Seingat saya nilai akreditasi  STFK Lelalero  saat ini B. Dalam kulirikasi perakreditasian, nilai B itu berada dalam skala menengah.  Atas  dasar apa Emil menilainya terkebelakang?

3. Tenaga pengajar. Di STFK Ledalero  ada sejumlah dosen  yang mengampu mata kuliah Filsafat seperti Dr. Leo Kleden, Profesor Dr. Konrad Keboeng, Frans Ceunfin, Lic.,  Felix Baghi, Lic., Ricard Muga Buku, Lic, Dr. Matias Daven, Dr. Otto Gusti Madug dan Emilianus Yakob Sese Tolo . Delapan orang ini khusus mendalami studi Filsafat.  Setahu saya, kampus lain yang memusatkan diri pada studi Fillsafat, STF Driyarkara Jakarta  misalnya,  jumlah dosen Filsafatnya kurang lebih seperti itu juga.  Supaya lebih jelas, biar kita sebut  saja dosen Fillsafat di sana: Prof Dr. Frans Magnis Suseno, Prof . Dr.  Michael Sastraprateja, Prof. Dr. Alex Lanur,  Prof Dr. Soediarja, Prof. Dr. Aloyisus  Nugroho, Dr. Sudarminta, Dr. Setyo Wibowo, Dr. Simon Petrus Lili Thahjadi, Dr. Thomas Tjahja, Dr. Karlina Supeli, Dr. Hieronimus Rupa,  Ada 11  orang dosan yang fokus mempelajari Filsafat. 

Di tempat lain ada juga  kampus yang mempelajari  Filsafat  misalnya di  Kupang, Malang, Yogyakarta, Medan, Manado, di Jayapura Papua. 
Di kampus-kampus  negeri juga ada Fakultas Filsafat, seperti  UGM, IU  dan   beberapa UIN.

Dari beberpa  kampus  itu, Driyarkara menduduki posisi terdepan dalam soal jumlah dosen Fillsafat. Lalu Leladero. Menilik posisi ini, apa   pantas Filsfat di Ledalero dikatakan terkebelakang?


Terkebelakang  dari  segi apa?

  1. Boleh jadi dari segi publikasi, baik publikasi dosen maupun mahasiswa. Ledalero sendiri memiliki penerbit, hanya perlu juga  mempublasikan karya secara nasional bahkan internasional.
  2. Konsentrasi  dosen . Banyak  dosen yang sibuk dengan urusan pastoral  juga. 
  3. Komunikasi  dan kerja sama dengan lembaga lain demi saling memperkaya satu sama lain.




JPS, 29  Januari 2021





Comments

Popular posts from this blog

ST. AGUSTINUS

PATER MARKUS SOLO KEWUTA, SVD

PARA FILSOF